The Power of Syukur

syukur

Berapa juta orang yang membuka mata di pagi hari dengan keluh kesah?

Pekerjaan, tugas, utang, sakit, ini, itu dan semua yang bisa dikeluhkan akan terucap seiring dengan dimulainya hari kita.

Kata seorang bijak, mengeluh itu tanda orang tidak besyukur.

Mungkin kita lupa bahwa dalam Al Quran telah ditulis: “Jika kamu bersyukur pasti akan aku tambah (nikmat-Ku) untukmu dan jika kamu kufur maka sesungguhnya siksa-Ku amat pedih”

Mengucap syukur. Itu hal sederhana yang sering kita lupa, hingga nikmat Allah banyak yang tertutupi oleh keluh kesah kita. Bagaimana rizki akan ditambah jika syukur pun tidak?

Syukur memiliki kekuatan yang dahsyat untuk menghadirkan “tambahan” dari Allah..Bersyukur dengan ucapan, dengan perbuatan ataupun dengan hati bisa kita lakukan.

So…Walaupun kadang dalam kondisi terberat sekalipun,,berusahalah untuk bersyukur..

Alhamdulillah atas nikmat iman islam yang Kau berikan Ya Allah.

Alhamdulillah atas kesempatan hidup yang Kau berikan Ya Allah.

Alhamdulillah atas rasa takut berbuat dosa kepadaMu Ya Allah.

Alhamdulillah atas nikmat sehat yang Kau berikan Ya Allah.

Alhamdulillah atas nikmat akal yang Kau berikan Ya Allah.

Alhamdulillah atas secangkir kopi dan sarapan pagi Ya Allah.

Alhamdulillah atas rizki yang Kau berikan Ya Allah.

Alhamdulillah atas takdir yang Kau tetapkan untuk ku Ya Allah.

Alhamdulillah atas Ibu Bapak yang terbaik yang kepadanya Kau amanahkan diriku Ya Allah.

Alhamdulillah atas hadirnya saudara, teman atau lawan sekalipun dalam kehidupanku Ya Allah.

Alhamdulillah…

Alhamdulillah…

Alhamdulillah… untuk segala yang Kau hadirkan Ya Allah.

 

~zoel auliya~

Iklan

Khusyu’ yang akan hilang

ngajiMembaca sebuah ulasan bahwa ilmu yang pertama akan hilang adalah khusyu’ dan ilmu faraidl.

Berbicara tentang khusyu’, sepertinya hal tersebut sudah nyata adanya. Sering saya memperhatikan orang-orang yang sedang sholat berjamaah di masjid. Ditengah-tengah waktu sholat, suara handphone berbunyi berkali-kali. Entah itu sms, bbm atau bahkan telpon dengan nada dering yang cukup keras dan lamaaa sekali.

Setelah imam mengucap salam tanda sholat usai, jamaah lain masih khusyu’ berdzikir, tapi tidak kalah banyaknya yang langsung mengambil HP dan sibuk membaca sms, bbm bahkan langsung update status untuk woro-woro kepada seluruh dunia bahwa dia sudah sholat. Terkadang saya berfikir, mungkin beliau-beliau itu sedang mengirimkan doa dan dzikirnya nya melalui sms…

Sering sekali saya terdiam disudut masjid dan melihat tingkah laku jamaah. Yang terlihat tertunduk khusyu’ berdzikir, membaca istighafar mungkin hanya beberapa orang dan itu adalah para sesepuh yang mungkin sisa hari-hari mereka hanya diisi dengan menambah bekal menuju akhirat dengan tidak ingin menyia-nyiakan waktunya.

Sembari berdoa dalam hati, “Ya Allah semoga istighfar dan doa segelintir orang yang masih tertunduk khusyu’ itu menghadirkan rahmat dan ampunanMu untuk kami semua yang berada disini…”.

Pernahkah bertanya kepada diri sendiri, berapa jam kita sanggup duduk membaca kitab suci Al Quran?

Mungkin baru satu halaman saja, mata sudah berat..Ngantuk. Atau bahkan baru membaca setengah halaman HP disebelah kita sudah berbunyi dan kitapun reflek, melirih HP dan menghentikan bacaan Quran kita.

Tetapi sadarkah kita bahwa mata kita tidak akan terasa berat sama sekali ketika harus duduk berjam-jam untuk main internet, game, update status di jejaring sosial atau apapun itu. Otak kita sudah mengalami gangguan konsentrasi.

Rasanya teknologi yang ada disekitar kita terkadang menjadi racun bagi diri kita sendiri, ketika kita tidak bisa memanfaatkannya dengan baik.

Semoga kita tidak menjadi orang-orang yang terlena.

~Zoel Auliya~

Rasio, Rasa dan Raga menuju Shirotol Mustaqiim

(Sebuah Nasehat dari Bpk. Haryadi Suparto)

Senin, 12 Agustus kemarin saya mendapat undangan untuk menghadiri acara Halal Bi halal di Pusat Humaniora, Kebijakan Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat, Surabaya. Tidak ada perbedaan yang mencolok dengan acara-acara halal bi halal umunya.

 

Setelah sambutan, salam-salaman, ramah tamah dan bubar. Tetapi sebelum semua orang selesai dan meninggalkan Aula, seorang Kakek yang tadi berada di jajaran tamu undangan dan para senir-senior yang sudah pensiun menghampiri saya dan menanyakan apakah saya dari BPOM.

 

Setelah saya menganggukkan kepala, beliau berpindah tempat duduk didekat saya. Bercerita, berbagi, bertanya dan menguji banyak pengetahuan saya.

 

Satu nasehat dari Beliau yang hari itu juga langsung saya tulis di selembar kertas.

 

Bahwa manusia itu terdiri dari rasio, rasa dan raga.

 

Rasio adalah akal pikiran yang membuat kita menjadi ciptaan paling sempurna. Tetapi jika kita bekerja, bertindak beraktivitas hanya dengan rasio saja maka kita tidak ubahnya seperti robot. Bergerak tanpa rasa. Bertindak tanpa naluri.

 

Maka manusia harus menggunakan rasa atau perasaannya untuk bisa dimanusiakan dan memanusiakan manusia. Rasio kita harus dikendalikan dengan rasa agar kita berbeda dengan robot. Dalam bekerjapun, seharusnya kita mengambil keputusan, mengambil kebijakan tidak hanya menuruti akal rasio saja, tetapi tidak jarang rasa harus berperan untuk menghasilkan keputusan terbaik. Agar apa yang kita kerjakan berada pada jalur Shirotol Mustaqim.

 

Banyak kebijakan, keputusan, kinerja lembaga pemerintah yang hanya mengejar dunia saja, menggunakan rasio saja sehingga tidak melibatkan rasa. ADA IMAN DALAM RASA itu.

 

Raga, adalah badan kita yang merupakan media pemersatu Rasio dan Rasa. Dr. Hariyadi mencontohkan demikian :

 

Kenapa kita batuk?? Karena ada benda asing yang harus kita keluarkan dari saluran pernafasan kita.

Ketika kita batuk, kenapa kita meminum obat antibiotik yang justru membunuh kuman dan bakteri yang harusnya kita keluarkan?   Karena itu obat yang cukup manjur dan cepat menyelesaikan batuk kita.

 

Batuk adalah bagian dari raga. Jika kita hanya menggunakan rasio untuk menyembuhkan batuk, maka antibiotik adalah solusinya. Tetapi jika kita menyertakan rasa, maka kita akan mencari sesuatu yang bisa membantu mengeluarkan dahak agar sembuh batuk kita.

 

Butuh waktu seminggu bagi saya untuk pelan-pelan mencerna nasehat seorang Kakek yang menasehati saya hingga seluruh undangan halal bi halal habis. Beliau menyampaikan banyak hal yang harus dipahami untuk memberikan yang terbaik dan berbeda dalam berkarya. Jangan hanya gunakan rasio, tetapi nyalakan rasa dalam setiap pikiran kita. Maka kita akan berada pada jalan yang insyaallah lurus (Shirothol Mustaqim).

 

Saya berusaha mencari siapakah gerangan beliau yang menasehati saya untuk menjadi berbeda dengan yang lain.

 

Beliau adalah pensiunan yang mendapat gelar APU (Ahli Peneliti Utama) dan DOR (Doctor of Research). Beliau mengabdikan dirinya dalam dunia penelitian bidang kesehatan tradisional. DR.dr. Haryadi Soeparto, DOR, MSC, APU. Perintis Museum Kesehatan Dr. Adyathma, MPH, Surabaya

 

Terimakasih Eyang untuk nasehat berharganya.

dr0

Dirgahayu Bangsaku, Dirgahayu Indonesiaku

(Detik-Detik Proklamasi 17 Agustus 2013)

merah putihGegap gempita perayaan HUT kemerdekaan RI tidak pernah terlewat sedikitpun olehku. Semangat 17 Agustus 1945 rasanya sudah mendarah daging di dalam badanku.
Peringatan detik-detik proklamasi, pengibaran sang Saka Merah Putih tidak pernah terlewat olehku. 29 tahun aku mendengar lagu Indonesia Raya dan lagu mengheningkan cipta di kumandangkan, tetapi badan selalu merinding ketika mendengarnya. Betapa semua ini diraih dengan perjuangan dan pengorbanan darah dan nyawa para pejuang bangsa.

 

Tetapi ketika sebuah pertanyaan muncul, apakah kita telah menjadi bangsa yang benar-benar merdeka?

 

Apakah yang telah kita berikan kepada bangsa kita sebagai penerus perjuangan?

 

Jika melihat ketimpangan sosial di masyarakat kita, rasanya kita belum merdeka dari kemiskinan.
Jika kita melihat sumber daya dan kekayaan alam kita dieksplorasi oleh asing dan kita hanya mendapat bagian yang sangat kecil, rasanya kita belum merdeka dalam menikmati kekayaan alam kita.
Jika kita melihat banyak orang yang menggerogoti bangsanya sendiri dengan korupsi, rasanya kita belum merdeka dari rusaknya iman.

 

Apalagi jika ditanya tentang kontribusi kepada bangsa. Kita mungkin akan bingung.

 

“Saya ini hanya rakyat jelata, Cuma begini-begini aja yang bisa kita lakukan”, itu mungkin yang terucap. Itu adalah kalimat yang justru mengkerdilkan kemampuan kita untuk menjadi luar biasa.

 

Kepadamu seluruh rakyat Bangsaku, hadirkan kobar semangat para pejuang didadamu.

Untuk menghadiahkan pengabdian terbaiki bagi bumi Pertiwi.

Jika bukan kita para generasi muda, lalu siapa lagi yang akan menyelamatkan negeri ini?

Jangan kecilkan semangatmu, jangan pupuskan asamu.

Yakinkan dirimu, bahwa setiap yang menapak jejak di bumi Nusantara harus mampu menghadiahkan yang terbaik untuk negeri tercinta.

 

 

Kutulis catatan ini dengan penuh haru,
diiringi lagu Indonesia Raya dalam pengibaran Sang Saka Merah Putih.

 

“Zulfa Auliyati Agustina”