Maka Hadirkan Allah ke Rumahmu..

masjidil-haram-mekah-saudi-arabiaSetiap umat islam pasti memiliki keinginan menjadi salah satu tamu Allah di Baitullah, Makkah Al Mukaromah untuk menyempurnakan rukun Islam yang terakhir yaitu Ibadah Haji. Tetapi ibadah haji dilaksanakan ketika seorang muslim sampai pada kriteria “mampu” untuk melaksanakannya. Dan pastinya semua itu tentu tidak terlepas dari kehendak Allah untuk mengundang siapa saja hambaNYA untuk hadir di Baitullah dan dengan cara apa saja yang Allah kehendaki pula.

Lalu bagaimana ketika yang terjadi adalah, Allah SWT belum juga mengundang kita sebagai tamuNYA untuk menyempurnakan rukun Islam kita?

Maka undang dan hadirkan Allah ke rumahmu.

Bagaimana mungkin dan bagaimana caranya mengundang Dzat Yang Menguasai Jagad raya ke  rumah kita?

Dalam sebuah kesempatan Prof. DR. Quraish Shihab menyampaikan bahwa, rumah seorang muslim adalah HATI nya sendiri. Maka undang Allah dalam hati kita.

Selayaknya seseorang yang akan menerima tamu kehormatan, katakanlah itu seorang presiden, maka si tuan rumah akan mempersiapkan rumahnya sebersih mungkin, senyaman mungkin, seindah mungkin untuk menyambut kehadiran sang presiden. Maka hal itu jugalah yang seharusnya kita lakukan. BERSIHKAN rumah kita !!

Prosesi dalam ibadah haji merupakan wujud “napak tilas” perjuangan Nabiyullah Ibrahim AS. Maka yang bisa kita lakukan adalah meneladani rangkaian Ibadah Haji, memetik setiap makna dan pesan yang ingin disampaikan dalam kehidupan kita sehari-hari.

Sa’i maknanya usaha. Dalam ibadah haji Sa’i dilaksanakan dari Shofa menuju Marwa dan bukan sebaliknya. Shofa maknanya Suci dan Marwa maknanya puas.

Dalam kehidupan, ketika kita berusaha maka berusahalah dari titik yang SUCI, halal dan lakukan dengan sekuat tenaga. Perjuangan kita pun akan sampai pula pada titik akhir dengan sebuah kepuasan (Marwa) atas setiap peluh dan kerja keras untuk mencapai sesuatu yang kita cita-citakan. Jika kita berusaha dengan sekuat tenaga, maka lihatlah Allah akan menganugerahi kita sesuatu yang bahkan lebih dari yang kita harapkan.

Sa’i mencontoh usaha keras Siti Hajar, ketika berjuang untuk mencari seteguk air untuk putranya Nabiyullah Ismail AS. Seolah tanpa putus asa hingga beliau berlari bolak balik dari bukit Shofa menuju Marwa, agar sang putra bisa minum. Dan Allah tidak hanya memberikan segelas air kepada Siti Hajar agar Ismail bisa minum, tetapi Allah menganugerahkan mata air di tengah-tengah gurun pasir.

Zam-zam, tidak hanya bisa menghilangkan dahaga Nabiyullah Ismail kala itu, tetapi menjadi mata air yang tak pernah kering hingga saat ini, bahkan kualitas airnya pun tidak diragukan. Jutaan umat islam pun bisa menikmatinya. Itulah perjuangan.

Pun demikian dengan melontar jumroh. Ibadah tersebut menggambarkan bahwa kita menyatakan “perang” kepada syaithan. Setiap kita tidak akan lepas dari usaha bujuk rayu syaithan. Segala kebaikan selalu butuh perjuangan tetapi keburukan bisa kita lakukan tanpa kendala apapun. Tetapi kita harus tetap berusaha untuk melawan segala yang buruk itu.

Masih cukup banyak sebenarnya yang bisa ditulis, nanti disambung lagi jika sudah mendapat pencerahan.

Sahabat, Kawan….

Ketika kita mampu membersihkan “rumah” kita dengan cara meneladani setiap tahapan ibadah haji dalam kehidupan sehari-hari, jika Allah belum memberi kita kesempatan untuk hadir ke Baitullah sebagai tamunya akan menjadi sesuatu yang luar biasa ketika Allah hadir dan senantiasa hadir di “rumah” kita… HATI.

 

Semoga akan datang juga kesempatan bagi seluruh umat islam untuk benar-benar menjadi tamuNYA di Baitullah..

 

~Zoel Auliya~

(catatan singkat @serambi jayakarta-MASK)