Rasio, Rasa dan Raga menuju Shirotol Mustaqiim

(Sebuah Nasehat dari Bpk. Haryadi Suparto)

Senin, 12 Agustus kemarin saya mendapat undangan untuk menghadiri acara Halal Bi halal di Pusat Humaniora, Kebijakan Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat, Surabaya. Tidak ada perbedaan yang mencolok dengan acara-acara halal bi halal umunya.

 

Setelah sambutan, salam-salaman, ramah tamah dan bubar. Tetapi sebelum semua orang selesai dan meninggalkan Aula, seorang Kakek yang tadi berada di jajaran tamu undangan dan para senir-senior yang sudah pensiun menghampiri saya dan menanyakan apakah saya dari BPOM.

 

Setelah saya menganggukkan kepala, beliau berpindah tempat duduk didekat saya. Bercerita, berbagi, bertanya dan menguji banyak pengetahuan saya.

 

Satu nasehat dari Beliau yang hari itu juga langsung saya tulis di selembar kertas.

 

Bahwa manusia itu terdiri dari rasio, rasa dan raga.

 

Rasio adalah akal pikiran yang membuat kita menjadi ciptaan paling sempurna. Tetapi jika kita bekerja, bertindak beraktivitas hanya dengan rasio saja maka kita tidak ubahnya seperti robot. Bergerak tanpa rasa. Bertindak tanpa naluri.

 

Maka manusia harus menggunakan rasa atau perasaannya untuk bisa dimanusiakan dan memanusiakan manusia. Rasio kita harus dikendalikan dengan rasa agar kita berbeda dengan robot. Dalam bekerjapun, seharusnya kita mengambil keputusan, mengambil kebijakan tidak hanya menuruti akal rasio saja, tetapi tidak jarang rasa harus berperan untuk menghasilkan keputusan terbaik. Agar apa yang kita kerjakan berada pada jalur Shirotol Mustaqim.

 

Banyak kebijakan, keputusan, kinerja lembaga pemerintah yang hanya mengejar dunia saja, menggunakan rasio saja sehingga tidak melibatkan rasa. ADA IMAN DALAM RASA itu.

 

Raga, adalah badan kita yang merupakan media pemersatu Rasio dan Rasa. Dr. Hariyadi mencontohkan demikian :

 

Kenapa kita batuk?? Karena ada benda asing yang harus kita keluarkan dari saluran pernafasan kita.

Ketika kita batuk, kenapa kita meminum obat antibiotik yang justru membunuh kuman dan bakteri yang harusnya kita keluarkan?   Karena itu obat yang cukup manjur dan cepat menyelesaikan batuk kita.

 

Batuk adalah bagian dari raga. Jika kita hanya menggunakan rasio untuk menyembuhkan batuk, maka antibiotik adalah solusinya. Tetapi jika kita menyertakan rasa, maka kita akan mencari sesuatu yang bisa membantu mengeluarkan dahak agar sembuh batuk kita.

 

Butuh waktu seminggu bagi saya untuk pelan-pelan mencerna nasehat seorang Kakek yang menasehati saya hingga seluruh undangan halal bi halal habis. Beliau menyampaikan banyak hal yang harus dipahami untuk memberikan yang terbaik dan berbeda dalam berkarya. Jangan hanya gunakan rasio, tetapi nyalakan rasa dalam setiap pikiran kita. Maka kita akan berada pada jalan yang insyaallah lurus (Shirothol Mustaqim).

 

Saya berusaha mencari siapakah gerangan beliau yang menasehati saya untuk menjadi berbeda dengan yang lain.

 

Beliau adalah pensiunan yang mendapat gelar APU (Ahli Peneliti Utama) dan DOR (Doctor of Research). Beliau mengabdikan dirinya dalam dunia penelitian bidang kesehatan tradisional. DR.dr. Haryadi Soeparto, DOR, MSC, APU. Perintis Museum Kesehatan Dr. Adyathma, MPH, Surabaya

 

Terimakasih Eyang untuk nasehat berharganya.

dr0

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s