17 Agustus 2011

Tak terasa usia kemerdekaan bangsa Indonesia sudah menginjak pada angka 66 tahun. Usia sunah umat Kanjeng Rasul Muhammad SAW untuk menutup usia. Jika melihat kondisi bangsa kita yang sangat timpang, dimana di satu kelompok masyarakat kesejahteraannya sangat melebihi ambang batas, namun disisi lain masyarakat kita sangat jauh dari kata sejahtera.

Apakah bangsa kita medeka untuk semua atau untuk sedikit orang saja?
Semua penilaian itu sangat tergantung dari sudut mana kita menilik.

Segolongan orang yang mungkin menurut kita berada pada derajat yang jauh dari sejahtera bisa jadi rasa syukurnya dan ketenangan jiwanya melebihi kelompok orang yang kaya raya.

Hal yang patut untuk selalu kita fikirkan bersama.

Yang lebih penting lagi, HUT Kemerdekaan Indonesia kali ini sangat istimewa, karena bertepatan dengan bulan Ramadhan dan persis pada tanggal 17 Ramadhan. Moment of Nuzulul Quran.

Sejarah mencatat bahwa proklamasi 17 Agustus 1945 pun dilaksanakan bertepatan dengan bulan suci Ramadhan. Jumat legi 17 Agustus 1945 atau bertepatan dengan tanggal 9 Ramadhan 1364. Sebuah anugrah dari Alloh SWT yang memiliki arti sangat sakral dan luar biasa bagi seluruh rakyat Indonesia.

Persis 39 tahun setelah proklamasi kemerdekaan RI dikumandangkan. Bertepatan dengan hari jumat legi, 17 Agustus 1984, aku terpilih menjadi khalifah di bumi Alloh SWT. Satu moment yang sangatluar biasa juga untuk semua orang yang ada disekelilingku. Bayi mungil terlahir dengan nafas perjuangan yang insyaalloh kelak akan berjalan dengan semangat yang selalu membara.

Hari ini dalam dzhohir tulisan angka, usiaku bertambah, namun sesungguhnya 1 tahun jatah usiaku telah berkurang.

Ya Rabb,,masih banyak hal yang serasa belum dapat kulaksanakan dengan baik.
Apakah aku sudah menjadi hambaMU yang taat?
Aku masih bangga dengan hobi iseng dan jahilku.
Bahkan aku selalu bangga kalau aku telah berhasil membuat orang BT karena “tak jahilin”.

Namun rasanya hal-hal kecil itulah yang membuat cerita hidupku menjadi berwarna warni. Serasa akan banyak hal yang kelak dapat kuceritakan kepada anak cucuku, hingga mereka tertidur lelah mendengar setiap kisah yang ku ceritakan.

YA Rabb, anugerahkan kepada kami umur panjang yang penuh berkah dan kelak tutuplah usia kami dalam khusnul khatimah…

Selamat Ulang Tahun juga untuk Den Bagus Wawan (07.08) dan sedulur wedok Zunnan (27.08)

~Zulfa Auliyati Agustina (17.08)~

Iklan

Awali dengan yang Gratis

Bulan Ramadhan selalu identik dengan serba-serbi makanan kecil untuk takjil, makanan pembuka untuk mengawali buka puasa, kehebohan buka bersama, taraweh, tadarus dan sahur.

Orang-orang yang gila sedekah dan ingin menghimpun pahala sebanyak-banyaknya pada bulan ramadhan akan berlomba untuk bersedekah sebanyak mungkin dengan menyiapkan takjil dan makanan untuk berbuka puasa bagi siapapun yang singgah ke masjid-masjid untuk berbuka puasa.

Safari Ramadhan untuk anak-anak kos pun dimulai !!!
Berburu takjil dan buka puasa gratis dari masjid ke masjid. Mencari menu yang enak dan berfariasi adalah aktifitas wajib mereka menjelang buka puasa. Sudah gratis, kenyang pula. Itulah enaknya.

Hukum aksi-reaksi terjadi disini. Bayangkan jika puluhan atau bahkan ratusan orang sudah berkumpul di masjid untuk berbuka puasa, namun tidak ada satu orangpun yang mau bersedekah untuk menyiapkan takjil gratis atau sebaliknya yang terjadi orang berbondong-bondong menyiapkan takjil, tetapi hanya ada 1 atau 2 orang saja yang siap menyantap sajian takjil dan buka puasa gratis. Apa yang terjadi ??

Coba perhatikan, walau banyak orang yang mengantri untuk mendapat hidangan takjil dan buka puasa gratis, namun jarang sekali ada kejadian sebuah masjid kehabisan takjil hingga jamaah yang datang tidak kebagian takjil. Banyaknya orang yang bersedekah di bulan ramadhan, ternyata disambut semarak juga oleh penikmat menu-menu gratis. Orang yang bersedekah mendapat berkah karena sedekahnya diterima dan orang-orang yang mungkin tidak bisa menyiapkan takjil dan buka puasa dirumahnya karena alasan apapun tetap bisa menikmati nikmatnya buka puasa.

~Zoel Auliya~

Penjual Daun Pisang dan Cicak

Pernahkah sejenak kita memperhatikan cicak yang sedang menempel di dinding?
Diam, bergerak pelan kesana kemari sesekali dia berusaha menangkap serangga atau nyamuk yang terbang mendekat, mungkin si cicak sedang lapar.

Pernahkah sejenak kita berfikir, bahwa cicak yang menempel erat didinding memakan hewan atau serangga yang terbang dan bahkan terkadang sangat jauh dari jangkauannya. Lidahnya terkadang tidak mudah menangkap nyamuk yang sedang terbang walau dia telah bergerak sangat cepat mendekati nyamuk itu.

Dia bersabar menunggu mangsa yang tak pasti datangnya, walau mungkin laparnya sudah tak tertahan. Sifat istiqomah untuk tetap tenang ada dalam penantiannya untuk mendapatkan apa yang dia cari. Keyakinan bahwa Sang Pencipta maha Rahman dan Rahim serta tidak akan membiarkan ciptaanNYA kelaparan cukup kuat terasa, bahkan hingga saat ini belum ada kejadian cicak mati karena kelaparan hingga kurus kering.

Pun demikian ketika aku masih duduk di bangku SD, sering sekali dapat tugas dari almarhum nenek (aku memanggilnya Emak) untuk menunggu datangnya seorang penjual daun pisang lewat. Emak suka memberi sesuatu kepada penjual daun pisang itu atau menyuruhnya untuk membelikan sesuatu ke pasar.

Emak selalu memintaku untuk duduk di teras rumah pada perkiraan jam si penjual daun pisang itu lewat. Bisa 1 jam lho nunggunya…
Tak jarang aku tidak berhasil menunggu.
Kalaupun aku bosan dan mulai habis kesabaranku untuk tetap tenang di teras dan kemudian aku masuk ke rumah, pasti akan kena marah.
HAYOO KEMBALI KE TERAS !!!! BENTAR LAGI DIA LEWAT !!!

Huft… Dengan kepala tertunduk lesu, aku harus ke teras lagi untuk sesekali melihat apakah ada tanda-tanda penjual daun pisang itu lewat.

Satu pelajaran hidup yang sebenarnya ingin diajarkan almarhum Emak padaku adalah tentang sifat sabar dan istiqomah menunggu sesuatu yang terkadang tidak pasti datangnya. Namun dengan satu keyakinan yang teguh, insyaalloh pohon kesabaran selalu berbuah manis, apapun bentuknya dan kisah tentang kesabaran akan berakhir dengan keharuan yang sangat indah. Selain itu Emak seperti ingin mengajarkan kepadaku akan arti memberi kepada yang lebih membutuhkan dari kita, seorang penjual daun pisang yang mungkin hanya bisa beli beras jika daun-daun pisang yang dia bawa dari rumah ke pasar laku terjual.


~Zoel Auliya~

    Dalam rindu yang berbalut doa,, semoga diampuni dosa-dosamu dan dilapangkan kuburmu.