Anugrah atau Musibah?

image

Bantuan Langsung Tunai yang merupakan program bantuan sejak pemerintahan presiden SBY yang pelaksanaannya berlanjut hingga saat ini. Hal itu awalnya dipandang sebagai solusi untuk warga kurang mampu ketika pemerintah mengambil kebijakan menaikkan beberapa harga.

Tetapi jika kita mencermati, pendataan warga kurang mampu sering tidak adil. Banyak masyarakat yang ikut berderet dalam antrian tetapi perhiasannya juga sederet. BLT tidak bersifat memberdayakan, tapi membuat orang bergantung pada datangnya uang.

Iya!!
Uang adalah sesuatu yang menarik bagi seluruh rakyat Indonesia. Tanpa terkecuali.
Dan pagi ini pencairan BLT di surabaya pun dimulai. Antrian mengular di halaman kantor pos sepertinya mencapai 200 mtr lebih. Sempat saya tanya kepada tukang becak yang mangkal di dekat kantor pos..
” Pasti dari subuh ya Pak antriannya?”
” Jam 3 malam tadi sudah ada yang antri neng”.

Luar biasa!
Bahkan selalu ada insiden warga yang pingsan dalam antrian. Bagaimana tidak, karena budaya antri yang kurang bersahaja, warga harus berdiri sejak loket belum dibuka dan ketika loket mulai dibuka mereka mulai berdesakan dan ribut karena takut tidak kebagian. Bayangkan saja untuk antri sejak pagi, orang harus tetap makan dan minum. Kesempatan emas bagi pedagang asongan.
BLT belum ditangan, tapi mulut dan perut sudah minta makan.

Sejumlah 300-400 ribu yang dibagikan pemerintah itu, terkadang malah menjadi bencana jika pengelolaannya tidak baik. Tetapi pemerintah menilai semua baik-baik saja.
(*aku rapopo)

Setiap yang Bertandang akan Melangkah Pulang

jejak-langkah-kakiBuku catatan kehidupan dimulai ketika ruh dihembuskan dalam raga setiap hamba yang dicipta. Perjalanan panjang tertulis dalam lembar demi lembar kertas takdir yang mewarnai tiap derap langkah anak manusia. Nalarnya berusaha menemukan dan memaknai arti hidup dan kehidupan. Naluri dan nuraninya terkadang jauh berlari melebihi langkahnya.

Mengenal Sang Pencipta dengan setiap kebodohannya, seolah mengerti namun sesungguhnya tiada arti. Seolah melangkah jauh ternyata tidak lebih dari angan yang angkuh. Setiap hari adalah belajar untuk mencari bekal dan mengumpulkan jerami sebagai dipan tempat kelak kembali.

Sesekali kita lupa bahkan terpesona dengan keindahan dunia dan kadang tersadar dalam kondisi terlena. Tapi itulah kita tempat bersemayamnya khilaf dan lupa yang kadang berbangga pula dengan kondisi itu.

Kedua tangan kita boleh dengan lincah menggoreskan pena untuk menguntai bait demi bait setiap kisah dan merangkai episode kehidupan, tapi sungguh itu semua adalah skenario besar dari sang Sutradara kehidupan. Hingga akan tiba saat dimana lembaran kertas kehidupan kita akan habis, tak ubahnya cerpen dengan aneka rupa cerita yang di akhiri dengan sebuah kesimpulan.

Itulah kita yang datang sebagai seorang pengembara, sejenak melepas lelah untuk menguatkan langkah menuju ujung perjalanan. Berapapun banyaknya langkah kaki kita, maka akan sampai pula pada saat dimana kita akan kembali pulang kepada tempat keabadian, karena kita hanyalah seorang pendatang. (note#Mei ’14)

~Zoel Auliya~

Entok, Angsa dan Ayam

Sawah“Menthok (red:entok) karo Banyak (red:angsa) kuwi endog e luwih gedhe timbang Pitik (red:ayam), tapi jarang konangan lek ngendok….Mergo pitik mesti ‘petok-petok’ lek bar ngendok, lha Menthok ga krungu suarane”

Adalah salah satu kalimat yang pernah diucapkan oleh Almukarom Alm. Abah Yai Nahrowi ZAM dan ditirukan oleh Mbah Yai Imam Daroini untuk menggambarkan kondisi pondok kala itu. Al Fattah ‘tidak’ begitu tampak dibanding beberapa pondok besar di sekitarnya karena merupakan pondok “junior”.

Walaupun terbilang baru, “langgar e Al Fattah biyen sering di’ampiri’ Kyai-Kyai sepuh, sing jelas lak oleh barokah do’a ne tho Nduk. Papan panggonan kuwi lek di ‘ampiri’ wong suci, Insyaallah bakal dadi mesjid utowo dadi pondok”, begitu dawuh Mbah Yai Imam.

Awalnya Al Fattah hanya ada satu komplek pondok putra putri yang semakin lama semakin padat dengan santri yang terus berdatangan dan rasanya kamar-kamar pondok pun semakin sempit.

“Lek perkoro mangan, aku yakin santri-santri iso golek dewe, tapi hasil e bar mangan (red:limbah) kuwi lek ga dipikir ngko ngganggu tonggo kiwo tengen”, Dawuh Alm. Abah memikirkan santri dan pondok.

“Yo sampeyan nDongo tho Mas Rowi, Ya Allah santrine tambah kathah”, begitu Mbah Yai Imam berbagi nasehat dengan kakaknya.

Dan Allah SWT benar-benar mengijabah doa Alm. Abah. Pondok putra, masjid, TPQ, Pondok Putri yang terus diperluas, adalah bagian dari perjuangan Al Fattah sendiri.

Apa yang ada saat ini, menjadi tugas dan tanggung jawab kita semua, termasuk alumni, untuk membuat banyak orang tahu “Kae lho..Ono Banyak ngendok, ono Menthok ngendok sing sejatine endog e luwih gedhe timbang Pitik sing petok-petok”.

(Crita dr. Mbah Yai Imam Daroini)#3 Juni ’14

~Zoel Auliya~

Tukang Sayur, Petani Singkong dan Penjahit

tukang-sayur-2Dikisahkan ada seorang raja sedang mempersilahkan seluruh rakyatnya berkunjung ke kerajaan untuk yang ingin bertemu dengannya. Diantara sekian banyak rakyatnya, adalah seorang tukang sayur yang datang menemui rajanya dengan  membawa seikat kangkung dan seorang petani yang membawa singkong hasil panennya untuk dihadiahkan kepada sang raja. Itu yang terbaik yang mereka miliki. Dan setelah disambut oleh Sang Raja, petani dan tukang sayur itu diberi pakaian istana yang sangat bagus, yang tidak dipakai oleh rakyat jelata. Subhanallah..

Disudut bumi lain dikisahkan seorang penjahit yang membuat baju lalu menjualnya ke pasar. Jahitan  dan bahan terbaik dia pilih untuk membuat baju itu berharap ada seorang yang membeli dengan harga yang tinggi. Tetapi yang terjadi ketika dia sampai di pasar dan menawarkan hasil jahitannya, seorang pembeli hanya menawar bajunya dengan harga 2 dirham. Penjahit itu akhirnya keluar dari kerumunan pasar, duduk dipinggir jalan sambil memegang baju hasil jahitan terbaiknya dan menangis sejadi-jadinya…Masyaallah, apa yang terjadi?

Dua kisah diatas menyiratkan nasehat untuk kita. Tukang sayur dan petani singkong yang menghadiahkan kepada Sang Raja alakadarnya apa yang dimiliki lalu dibalas dengan pakaian yang indah. Itulah gambaran diri kita yang senantiasa bersujud, beribadah alakadarnya kepada Allah, belum lagi jika kita merasa itu adalah ibadah yang terbaik dari kita, tetapi Allah senantiasa melimpahkan nikmat dan karunia berlipat-lipat kepada kita. Dua rakaat dipenghujung malam kita Allah SWT janjikan Maqomam Mahmuda. Jikapun seluas lautan dosa kita, maka Ampunan Allah jauh lebih luas dari itu semua. Apa yang kita banggakan dihadapan Allah SWT, kawan?

Keangkuhan kita yang merasa telah memberikan yang terbaik seperti penjahit diatas, ternyata harganya hanya dua dirham. Bisa jadi sebanyak-banyak ibadah yang kita lakukan, sesungguhnya murah harganya dihadapan Allah. Itulah mengapa penjahit menangis sejadi-jadinya, bukan karena kecewa jahitannya dihargai murah, tetapi saat itu dia sadar bahwa bisa jadi ibadah-ibadahnya kepada Allah, yang menurutnya adalah yang terbaik tapi ternyata tiada artinya.

Penghancur ibadah kita terkadang sederhana, Riya’, angkuh dan teman-temannya.

#pengajian Dhuha MASK#Songgo uwang nyang ngarep lawang#karombatin “ho’oh aku yo ngono kuwi Yaa Allah”#

~Zoel Auliya~

Menjadikan Pare Senikmat Sate

alhamdulillah (1)2“ Pare (sayur) itu pahit rasanya, tetapi masih banyak orang yang mau makan dan menganggap pare itu adalah makanan yang enak. Enak dan tidaknya sesuatu itu tergantung bagaimana kita mensikapinya”.

Kalimat singkat yang disampaikan Mbah Kyai Sofwan Nizhiomi mengawali ceramahnya disela-sela waktu ba’da maghrib hingga Isya itu memiliki makna yang cukup luas. Beliau merujuk pada salah satu ayat dalam QS Al Hijr : 97-99 dimana pada saat itu Nabiyulah Muhammad SAW menerima cacian dan makian dari orang kafir yang semua itu menyesakkan dada Beliau Nabi maka pada ayat 98 disampaikan “maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan jadilah kamu di antara orang-orang yang bersujud (shalat)”.

Umumnya kita mengucap Hamdalah ketika mendapatkan nikmat, karunia dari Allah SWT. Sejak kecil pun kita selalu diajarkan untuk senantiasa mengucap Hamdalah sebagai bentuk ungkapan syukur kita. Tidak ada yang salah dan itu Betul!!

Bahkan terdengar aneh ketika ada orang yang mungkin jatuh, berdarah-darah dan patah tangannya lalu dia mengucap “Subhanallah..Alhamdulillah, tanganku patah”. Reaksi spontan yang muncul bisa jadi kita akan berkata dalam hati “Pasti orang ini setengah sadar, tangannya patah berdarah-darah kok Alhamdulillah”.

Jika kita hanya menggunakan bahasa Hamdalah untuk hal-hal yang melulu tentang nikmat, maka sesungguhnya kita sedang membuat sebuah batasan, sedang mempersempit pandangan kita tentang segala yang dianugerahkan oleh Allah SWT baik itu nikmat maupun ujian.

Pada akhirnya ketika ujian yang pahit datang menghampiri, mungkin sejenak kita akan lupa bahkan tidak sama sekali mengucap Alhamdulillah hingga kita larut dengan kesedihan. Seolah beban sebesar gunung sedang berada dipunggung kita.Tetapi jika kita sudah mampu mensikapi segala sesuatu dengan mengucap Alhamdulillah, Insyaallah tidak ada lagi yang namanya “Penderitaan”.

“Hidup akan menjadi sempit karena kita bersyukur pada saat mendapat nikmat saja. Padahal bisa jadi nikmat yang diperoleh berasal dari pahitnya cobaan”.

~Sepahit apapun Pare bisa menjadi senikmat sate, dengan ucapan Alhamdulillah~

 

Zoel Auliya

(Ngrangkum Dawuh e Mbah Yai)

Ketika air tak dapat dibendung dan Gunung tak dapat di sumbat

AmpunSaat ini seluruh penghuni bumi sedang menerima ujian dimana bencana alam terjadi dimana-mana dan semua berteriak.

Tetapi, berhentilah menjadi orang yang menghabiskan waktu untuk berdebat, untuk melempar kesalahan atau bahkan hanya sebatas mencaci orang lain tidak becus menangani bencana, tidak bisa mengambil keputusan, tidak bertindak cepat. Saat ini yang paling cepat bertindak ketika bencana alam datang dan menimbulkan banyak korban adalah “KOMENTATOR” (tinggal ngomong doank). Menunjuk si A, si B yang salah, padahal tanpa disadari ketika satu jari telunjuknya menunjuk orang lain, empat jari sisanya mengarah kepada diri sendiri.

Yang terjadi sekarang adalah musibah yang semakin parah, dimana air tidak dapat dibendung lagi, serasa seluruh air dilangit tumpah ke bumi dan gunung merapi itu tidak bisa dengan mudah di sumbat agar tidak mengeluarkan awan panas dan lahar, maka masih ada satu hal yang Insyaallah bisa menahan air dan menyumbat “mulut” gunung merapi agar tidak “muntah”.

Sebenarnya sudah diingatkan melalui Al Quran (Di buka Al Qurannya broooooowww..)

 وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ

Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu). QS : Asy Syuro: 30

Bukan salahnya Gubernur saja yang tidak cepat mengambil keputusan

Bukan salahnya masyarakat yang suka buang sampah di sungai saja

Bukan salahnya pemerintah setempat kalo belum punya ini itu untuk menangani BISUL PECAH (dibaca : GUNUNG MELETUS)

Bukan salahnya yang sibuk dengan politik atau apalaah.

Tapi yang salah kita semua..termasuk saya yang nulis :D..

Solusinya ” Alloh memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu) ”

Yuupzz !!!!

ISTIGHFAR.

Hitung saja jumlah pengungsi banjir di Jakarta, Pekalongan, Subang, Indramayu, Bekasi, Sumatera, Semarang, pengungsi Sinabung, Pengungsi banjir Bandang Manado dan yang lain yang belum tersebut..Ribuan pastinya

Yuuk memohon ampunan bersama-sama..beristighfar bersama-sama agar Alloh SWT menggenggam kita semua dengan sifat Ar Rohman dan Ar RohimNYA dan mengampuni dosa-dosa KITA semua..(tanpa terkecuali yang nulis)..

Jika Ribuan orang beristighfar, memohon ampunan maka saksikanlah bahwa Alloh Dzat yang Maha luas ampunanNYA. Insyaallah mampet daah tuh hujan dan gunung muntah..

“Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; Dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu” QS At Taghobun : 11.

 

~Zoel Auliya~

Gang Dolly VS Iqro’ dan Pengemis VS Dhuha

IQRA'Empat tahun aku tinggal di kota Surabaya untuk menuntut ilmu, melanjutkan ke jenjang kuliah setelah sukses menyelesaikan SMA.

 

Ada banyak hal yang menjadi ciri khas kota pahlawan ini, salah satunya yang melegenda adalah “Gang Dolly”. Awalnya aku hanya sebatas mendengar cerita dari orang atau teman-teman yang mungkin sudah pernah melihat daerah tersebut. Sesekali ingin membuktikan sendiri tapi tiba-tiba keinginan itu hilang setelah berfikir lagi “Lapo yo blusukan nyang panggonan koyok ngono iku, Naudzubillahi min dzalik”.

 

Gang Dolly dan permasalahan tentang PSK, akhlak, moral yang berdampak pada kondisi kesehatan, perekonomian masyarakat akhir-akhir ini selalu menjadi kontroversi banyak pihak dari berbagai latar belakang bidang ilmu. Agama, kesehatan, sosial, psikologi, ekonomi dan apapun itu. Apa tidak diberantas PSK itu? Apa tidak bisa diminimalkan penularan penyakit akibat PSK (HIV/AIDS) itu? Ditutup saja lokalisasi yang ada, apa tidak bisa!!?? Kalau ditutup bagaimana menyiapkan lapangan pekerjaan untuk mereka itu? Dan ribuan pertanyaan yang menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk membahasnya.

 

Tetapi, ada hal luar biasa yang terjadi setelah aku menyelesaikan kuliah, wisuda dan menunggu seluruh proses administrasi kelulusan selesai, aku sempat menjadi pengumpul data (surveyor) untuk membantu sebuah penelitian Dosen dengan wilayah penelitian meliputi seluruh kecamatan di kota Surabaya. Para surveyor tidak memilih sendiri kecamatan atau daerah pengambilan data, tetapi diundi secara acak oleh Dosen.

 

Kecamatan Sukolilo dan Sawahan, itu wilayah yang harus aku kunjungi untuk pengambilan data dan sekaligus ditetapkan juga Kelurahan mana yang akan di sampling.

 

Sukolilo, daerah itu masih masuk dalam peta memoriku karena berada di wilayah sekitar kampus ITS, tetapi tidak dengan kecamatan Sawahan, Kelurahan Dukuh Kupang dan Putat. “ Iki Suroboyo bagian ngendi Rek?”, tanyaku dalam hati.

Beberapa teman tertawa ketika aku menanyakan daerah itu. “Gang Dollyy..hahaha”, jawab salah seorang anggota tim. Jadi aku benar-benar akan ke tempat ini. Wow!!

Akhirnya akupun menginjakkan kaki di daerah lokalisasi, yang kabarnya adalah lokalisasi terbesar kedua se-Asia Tenggara. Sempat beberapa kali berhenti untuk menanyakan rute menuju kantor kelurahan Putat, karena memang aku belum pernah tau daerah itu. Bahkan ketika aku harus berhenti dan bertanya kepada seorang polisi yang bertugas di pos polisi waktu itu, diapun juga tertawa mendengar aku bertanya kemana arah menuju kelurahan Putat.

“ Tempat prostitusi terbesar, tau nggak?”, katanya sambil tertawa.

“ Iya. Tau Pak !! Gang Dolly”, jawabku

“ Ya disitu itu Kelurahan Putat”, kata Polisi (*edan).

“ Masalah e aku ga ngerti dalan e mrono Pak. Lek aku ngerti, ga katene takon mrene”, kataku.

“ Ooooww..iya..ya.yaa..”.

 

Astaghfirullahal ‘adziim, dalam hatiku, setelah aku benar-benar sampai pada satu jalan besar dimana di kiri kanan jalan itu adalah diskotik, Wisma (Sebutan untuk rumah penjaja PSK) berderet di sepanjang jalan dan gang itu. Ribuan PSK menghuni  lokalisasi tersebut.

Sekitar tiga minggu, setiap hari aku harus mondar mandir melewati daerah itu. Bahkan sampai pada satu hari dimana aku dan teman satu tim ku pulang agak malam. Pemandangan yang kami lihat malam itu sangat luar biasa. PSK dipajang seperti makanan siap beli. Akuarium Hidup, itu istilahnya. Bahkan sempat pula aku ditawari “ Parkir Om…Parkir Om..Silahkan lihat dulu”. HAH Wong Edan!!! Aku disuruh mampir??

Kenapa sampai aku ditawari, itu karena, aku menggunakan kostum preman. Sepatu kets, celana jins longgar, jaket besar, tas ransel, helm full face dan masker. Jadi hanya terlihat mataku saja. Pantaslah jika aku dikira seorang laki-laki yang sedang mencari “mangsa” disitu (Hahahaha…*ngakak sambil pake helm). Itu adalah kostum paling aman untuk blusukan ke sana.

 

Sebuah pelajaran berharga yang selalu kurenungi di serambi masjid yang kusinggahi untuk sholat dan istirahat sejenak di sekitar Gang Dolly. Masih ada masjid disini, masih ada yang bersujud disini. Insyaallah ampunan masih akan hadir disini.

 

Masalah perut, itu intinya. Orang bisa menjual diri untuk harta dengan alasan tidak ada pekerjaan lain, sudah terlanjur atau bahkan ada yang takut dengan mucikari. Yang harus difikirkan adalah bahwa disekitar tempat itu banyak anak-anak kecil yang sedang tumbuh membentuk pribadinya, tetapi setiap hari harus disuguhi dengan pemandangan yang luar biasa. Secara psikologis pertumbuhan anak-anaak itu bisa saja terganggu.

Sampai satu ketika aku berfikir, bahwa Jawa Timur ini tempatnya orang alim, gudangnya ulama, lima dari 9 orang walisongo ada di Jawa Timur. Tetapi kok bisa tempat seperti ini tumbuh berkembang hingga menjadi icon yang tersohor. Dulu aku sama sekali tidak punya keinginan untuk lewat atau hanya sekedar tahu tempat ini, tapi tiga minggu waktu yang kulewati membuat aku harus merubah sudut pandang. Bahwa orang-orang yang ada di lokalisasi itu, butuh diselamatkan ditengah cacian dan hinaan.

 

Apapun yang ada dihadapanku saat itu, sebuah keinginan tiba-tiba saja terlintas dikepalaku.

Aku pingin ngajari Iqro’ untuk semua PSK di Gang Dolly itu yang merasa dirinya Islam. Dan mungkin ini bisa dilakukan dimana saja ada lokalisasi. IQRO’ adalah ayat pertama yang diturunkan Allah kepada Baginda Nabi Muhammad SAW melalui Jibril. Memberantas mereka dengan cara keras justru tidak menyelesaikan masalah. Apapun agama mereka, satu hal yang pasti adalah PSK itu pasti punya hati nurani. Dari sudut pandang ku, sebobrok apapun seseorang, Insyaallah bisa disentuh hatinya untuk kembali kepada jalan yang lurus. Kembali kepada agama, paling tidak membuat seseorang takut kepada Tuhan.

 

Lalu bagaimana jika sore belajar Iqro’, belajar alif, ba’, ta’ dan malamnya PSK itu masih “menjual diri”?

“ Mbak, saya mau belajar Iqro’ nya sore aja yaa, karena nanti malem saya musti kejar setoran. Tamu saya banyak lho..”.

“ Iya deh ngga apa-apa. Pokoknya setiap sore kalian semua ngaji Iqro’ dulu yaa”

Itu semua terlintas dalam angan-anganku. Itu mimpiku yang kubalut dengan sebuah doa sederhana untuk mereka yang berada dilokalisasi. Bahwa semoga setiap huruf yang kalian pelajari, akan menjadi sabab musabab hadirnya hidayah dan pertolongan Alloh SWT untuk kalian jika yang kalian cari hanya rizki agar bisa makan, hidup, untuk biaya anak sekolah. Maka Alloh adalah dzat yang Maha Kaya untuk memberimu rizki yang berlimpah.

 

IQRO’  IQRO’  IQRO’….ini mungkin solusi kecil yang mampu keluar dari pikiranku yang sempit dan keterbatasan ilmuku. Touching the heart…

Itu baru tentang Gang Dolly.

 

Belum lama ini kita dikejutkan oleh seorang pengemis yang menyimpan uang hingga mencapai 20 juta lebih. Tidak ada yang salah sebenarnya, ketika ada seseorang yang memiliki banyak uang. Yang menjadi masalah adalah bagaimana dia mendapatkannya.

Pengemis, satu pemandangan yang bisa kita jumpai dimana saja.

Apa yang bermasalah dengan mental masyarakat di negeri kita tercinta ini? Disatu sisi kita melihat banyak orang berjuang keras untuk bekerja dan untuk memperjuangkan orang lain, tetapi di sisi lain banyak kita temui segolongan orang yang hanya mengandalkan meminta-minta dari orang lain untuk bertahan hidup.

 

Yaa Alloh Yaa Rabb, lagi-lagi ini masalah perut. Sungguh orang fakir miskin yang bersabar, itu mulia. Mereka menilai dirinya fakir miskin yang harus dikasihani karena tidak mendapatkan pekerjaan dan harus bertahan hidup.

Tapi tidak seperti ini harusnya!!!

Wahai saudaraku para pengemis, bolehkan aku meminta??

Bagaimana jika sebelum kalian semua berangkat mengemis, meminta belas kasihan orang lain, mohonlah belas kasihan kepada Dzat yang menciptakan manusia. IYA! Sholat Dhuha dulu yuuk. Belum ada kan pengemis yang sholat dhuha dahulu sebelum berangkat mengemis??

 

Dan saksikan bahwa Alloh SWT itu dzat yang Maha Kaya yang tidak akan berkurang sifat KeMaha-anNya sedikitpun andai engkau sekalian meminta berlian sebesar gunung.

Ingin rasanya aku datang ke tempat perkumpulan pengemis dan mengajak semuanya sholat Dhuha dahulu sebelum berangkat mengemis. Mungkin satu tahun kemudian pengemis itu akan menjadi juragan-juragan, tentunya atas izin Alloh SWT.

 

 

~Zoel Auliya~

“Sebuah asa, cita-cita dan mimpi untuk mengenalkan kepada semua, bahwa Alloh SWT itu ArRozzaq dan AlGhoniy, Maha Memberi Rizki dan Maha Kaya”.