Kenapa Tidak Segera Kembali Kepada Al Quran?

(Momentum Nuzulul Quran)

AlquranIndonesia adalah negara dengan jumlah Muslim terbesar sedunia, semua orang sudah mengetahui tentang hal itu. Ulama-ulama besar di dunia yang belum pernah melihat kondisi Indonesia mungkin akan membayangkan betapa makmur dan sejahteranya masyarakat Indonesia yang senantiasa berlimpah rahmat dan berkah dari Allah swt.

Tetapi pada kenyataannya, menurut Syech Ali Jabeer, salah seorang Syech dari Madinah yang tinggal dan berdakwah di Indonesia menyatakan bahwa jumlah Muslim yang tidak bisa membaca Al Quran terbanyak adalah di Indonesia juga. Masyaallah..

Sebuah kondisi yang sebenarnya patut disayangkan betapa tampak jelas bahwa Muslim di Indonesia tidak mengenal Kitab sucinya.

Padahal Al Quran diturunkan salah satunya untuk menjawab problematika kehidupan manusia. Tetapi justru banyak orang Islam yang membacapun tidak bisa. Inilah mungkin mengapa bangsa Indonesia ini seolah berjalan tertatih-tatih dalam negeri yang berlimpah kekayaan alamnya, bencana silih berganti menghampiri. Ujian dan peringatan yang tidak berhenti menyapa, sebenarnya Allah sedang menunjukkan betapa Allah Maha Penyayang.

Kenapa tidak segera kembali kepada Al Quran?

Dan benar-benar menjadikan Al Quran sebagai tuntunan dan pedoman dalam kehidupan kita. Agar rahmat dan ampunan Allah hadir untuk seluruh penjuru negeri ini.

Sudah jarang kita jumpai kampung-kampung yang anak-anaknya, warganya mengaji Al Quran ba’da maghrib di surau-surau. Jikapun ada, itu mungkin di pedalaman yang sedikit tidak tersentuh teknologi. Sudah jarang terdengar suara anak-anak yang tertatih melafalkan ayat demi ayat bersama seorang Guru.

Saat ini Indonesia sedang menikmati pesatnya perkembangan teknologi. Sekolah-sekolahpun semua berstandart internasional. Betapa bangganya sepasang orang tua yang anak-anaknya bersekolah di  sekolah bertaraf internasional, tetapi untuk belajar membaca iqro’ saja tidak sempat. Alasan klasik, kasihan si anak karena sudah sekolah dan dilanjutkan dengan berbagai jenis les tetapi masih harus datang ke TPA untuk ngaji.

Seluruh lapisan usia menjadi penggila gadget dengan berbagai model. Mulai anak-anak hingga orang dewasa banyak yang tidak bisa lepas dengan handphonenya. Sehari mungkin menghabiskan waktu 25 jam memegang handphone, tetapi itu tidak berlaku untuk Al Quran yang merupakan kitab sucinya.

Serasa handphone dan segala jenis gadget adalah bencana besar bagi Muslim di negeri ini.

Sebuah tantangan untuk lembaga-lembaga pendidikan dan seluruh elemen masyarakat untuk mengemas pelajaran agama semenarik mungkin.

Betapa tidak Allah akan murka untuk hambaNya. Naudzubillahi min dzalik.

Membaca KalamNya saja kita tertatih-tatih dan bahkan ada yang seumur hidup tidak pernah membaca Al Quran. Padahal dalam sebuah hadits Nabi SAW bersabda bahwa “Orang terbaik di antara umatnya adalah mereka yang mempelajari Alquran dan yang mengajarkannya kepada orang lain.”

Lalu apa yang kita tunggu? Rasanya tidak ada lagi alasan untuk tidak segera kembali kepada Al Quran dan memuliakan Quran sebagaimana Al Quran diturunkan.

~Zoel Auliya~

Iklan

Senyum Anak Negeri

Hari anak nasional yang diperingati setiap tanggal 23 Juni selalu diwarnai senyum ceria anak-anak Indonesia yang berbalut ratapan tangis pula di beberapa sudut negeri. Tidak bisa dipungkiri masih banyak anak-anak negeri yang tidak mendapat kebahagiaan “versi” mereka.

Berada di remote area, belum terjangkau teknologi ataupun karena kondisi sosial yang membuat mereka tidak bisa tersenyum seperti anak-anak lain pada umumnya. Belum bisa merasakan pendidikan yang merata sampai yang tidak mendapat asupan gizi secara sempurna dalam pertumbuhannya.

Tetapi pastinya masih banyak hal yang patut dibanggakan dari anak-anak negeri ini. Prestasi yang terus diukir membuat kita tersenyum bangga pada anak-anak seraya mendoakan agar seluruh anak negeri ini mendapatkan kebahagiaan selayaknya usia mereka.

Sesaat teringat masa dimana saya berada fase itu. Semua yang saya inginkan seolah ada didepan mata. Apa yang terlintas dikepala selalu diwujudkan dalam sebuah bujuk rayu manja permintaan kepada orang tua. Menghabiskan banyak waktu untuk bermain, tertawa dan tertawa. Tetapi hari ini saya melihat potret wajah anak-anak negeri ini yang masih cukup banyak tidak bisa merasakan bahagianya menjadi seorang anak.

Diusia dini mereka sudah tidak lagi dapat melanjutkan pendidikannya karena orang tua mereka tidak memiliki pekerjaan yang bisa mencukupi kebutuhan sekolah mereka. Tidak jarang mereka dipekerjakan untuk menopang ekonomi keluarga atau yang lebih parah mereka rusak oleh kerasnya zaman.

Dalam senyum dan tawa anak negeri ini masih tersirat luka yang harus diobati.

 

anak1   anak2

anak3

~Zoel Auliya~

Selamat Hari Anak Nasional