Cara Allah Mencintai Seorang Ajdie Masaid

Sabtu, 5 Februari 2011 masyarakat dikejutkan dengan kabar meninggalnya Adjie Masaid. Tentunya pihak yang paling kehilangan atas kepergiannya adalah keluarga, terutama istrinya Angelina Sondakh. Diusia pernikahan yang masih terhitung sangat muda, seorang Angelina Sondakh harus kehilangan suami dan menjadi single parent.

Sejenak mengingat perjalanan seorang Adjie Masaid, walaupun aku bukan penggemarnya. Masyarakat pati tahu bagaimana perjuangan seorang Adjie Masaid sebelum membina rumah tangga dengan Angelina Sondakh. Beda keyakinan, ditentang keluarga, putus nyambung, tapi perjuangan mereka berujung pada pernikahan.

Tidak hanya itu, Adjie Masaid berhasil membawa Angelina Sondakh menjadi seorang mualaf.

Pagi ini, aku sempat baca berita di web online dan di salah satu stasiun tv tentang sebuah pernyataan dari Elza Syarif.

“Rumah tangga Angelina Sondakh dan almarhum Adjie Masaid sempat diguncang badai besar. Sebelum Adjie meninggal, Angie pernah minta cerai dari Adjie Masaid”.
“Tahun 2010 sekitar Agustus sampai September saya mendapat informasi dari kuasa hukumnya Angelina Sondakh, Sheila Salomo, bahwa Angie minta cerai dari Adjie ,” ungkap Elza Syarif di kawasan SCBD, Sudirman, Jakarta Selatan.

Saat ini Angelina Sondakh sedang terbelit masalah korupsi. Seorang single parent yang harus berjuang meyakinkan anak-anaknya bahwa dia tidak bersalah.

Tapi kali ini aku lebih ingin melihat dari sisi kasih saying Allah. Seandainya hari ini Adjie masaid masih hidup, mungkin dia akan kecipratan dosa istrinya. Dia selalu berusaha mempertahankan keutuhan rumah tangganya, walaupun istrinya beberapa kali meminta cerai. Dia selalu berusaha mengingatkan istrinya untuk tidak menerima uang yang “tidak jelas”.

Sepertinya Allah mencabut nyawa Adjie Masaid karena Allah sayang dengan hambanya yang baik, yang jujur, yang tulus. Amalnya diputuskan hingga ia mengislamkan seorang Angelina Sondakh, membina rumah tangga yang selalu dia pertahankan keutuhannya dan akhirnya Allah mencabut nyawanya.
Wallahu A’lam

`Zoel Auliya~

Iklan

Penjual Jagung Rebus

Sore ini jadwal beli gallon isi ulang, tapi sepertinya kali ini bukan hari keberuntunganku. Bapak-bapak pengantar gallonnya lagi keluar. “Besok saja telpon lagi”, begitu pesan suara dibalik telpon.

Akhirnya aku harus jalan ke warung di dekat kos untuk beli air minum kemasan, sementara menunggu esok hari galonnya diantar. Di samping masjid aku lihat seorang abang penjual jagung rebus sedang duduk dibawah pohon sambil menunduk. Biasanya di samping masjid berjajar penjual-penjual makanan, tapi malam itu semua tidak ada. Hanya tukang jagung rebus yang tumben mampir di ujung jalan itu.

Aku sempat melirik tukang jagung itu. Nggak tega juga melihatnya. Dia sedang berusaha mengumpulkan rupiah demi rupiah keuntungan untuk dibawa pulang. Untuk keluarga di rumah.

Aku beranikan mendekat untuk membeli. Walaupun aku yakin tuh jagung rebus pasti keras dan nggak begitu enak dimakan.
“ Jagungnya berapa, Pak?”, tanyaku.
“ 2500 Neng”.
Setelah kulihat sisa uang yang ada di genggamanku hanya ada 2000 rupiah.
“2500 ya Pak?”
“Iya”, kata Si Bapak.
“Beli satu aja, pilihan yang muda ya Pak. Tapi uangnya kurang 500, saya ambil 500 nya dulu ya Pak”, pesanku ke tukang jagung.
“Ya udah, ambil aja Neng. 2000 nggak apa-apa”, kata si bapak.

Nyengir juga aku dalam hati. Niat dalam hati membeli jagung karena kasihan, supaya si tukang jagung bisa menambah pundit-pundi keuntungan si tukang jagung rebus, eeehh malah aku yang dikasihani sama tukang jagung. Sepertinya tampangku terlihat jauh lebih pantas dikasihani…hehehe.

`Zoel Auliya~

Sepenggal Kisah

Sembilan tahun lalu kita bertemu di satu tempat yang mungkin sudah kita rencanakan berada di tempat itu jauh sebelumya atau bahkan karena kebetulan kita terdampat di tempat itu.. Kampus Ungu. Dengan idealisme dan karakteristik yang menjadi ciri masing-masing diri pribadi kita. Menuju satu cita yang akan hadir dengan indah pada saatnya nanti.

Tak terasa waktu yang terus berputar, sejenak membuatku mengingat kembali keberadaan kalian dalam coretan kisah perjalanan kehidupanku. Dengan segenap keindahan karakter yang tertoreh dalam diri kalian, terkadang menghadirkan harmoni yang indah dalam berbagai kisah, walaupun tak jarang perbedaan itu menghadirkan perdebatan dan pertengkaran panjang. Mempertahankan pendapat dan ego yang merupakan ciri diri pribadi seorang pemuda.

Aku bintang kecil yang tak ingin pudar cahyanya,,
Engkau bulan yang senantiasa bersinar meski tak selalu benderang,
Dia langit biru yang memancarkan kesejukan,
Dan mereka awan putih yang melukiskan kedamaian
Itulah caraku menggambarkan kalian dalam dunia kecilku

Tahukah kawan,,
Hal itu kini kurindukan…
Belajar menghargai perbedaan. Belajar menghargai arti kawan, sahabat dan persahabatan. Belajar arti kesungguhan menggapai asa dan cita. Belajar tentang perjuangan dan keyakinan akan kesuksesan di masa depan.
Tertawa, menangis, berbagi kisah dan berbagi kata semangat.

Takdir membawa kita kepada jalan kehidupan yang berbeda. Terpisah demi lentera asa yang tak pernah padam di dalam dada untuk membaktikan diri kepada pertiwi.

Kawan,, sahabat,,
Apa kabarmu?
Apa kabar rumput hijau di kampus ungu?
Apa kabar ikan-ikan koi di kolam rektorat?
Apa kabar patung garuda muka ?

~Zoel Auliya~