Berdoa, Mendoakan dan Minta didoakan

Selama lima tahun menginjakkan kaki di ibukota negara, Alhamdulilah hari minggu kemarin keturutan juga sholat di masjid istiqlal..

”Masyaallah, kemane aje neng, sudah sekian lame baru nginjek lante istiqlal”, begitulah kira-kira logat betawinya.

Hari minggu terakhir disetiap bulan adalah jadwalnya ust Yusuf Mansur, tapi hari itu tidak hanya beliau ada syech Muhammad ada syech Yusuf dari Yaman dan tiba-tiba ada yang mampir juga. KH Hasan dari PP Gontor, Ponorogo.

Pada kesempatan mampir yang singkat, satu bait kalimat nasehat yang disampaikan KH Hasan sederhana tapi luar biasa ulasan maknanya..”Berdoa, mendoakan dan minta didoakan”, itu pesan Beliau.

Sebagai manusia kita tidak akan lepas dari keinginan, hajat, cita-cita, permintaan atau apalah kita menyebutnya.

Yang selalu kita lakukan ketika hajat dan keinginan sudah diubun-ubun serasa ingin mengguncang seluruh isi jagat adalah berdoa, berdoa dan berdoa tanpa henti..karena Allah berfirman “berdoalah kepadaKu, niscaya aku akan mengijabah doamu”.

Setiap langkah ketika kita bertemu kawan, sahabat, saudara, guru, atau sowan kepada Kyai kita pun akan meminta agar dibantu berdoa, agar didoakan karena kita tidak tahu doa siapa yang akan Allah kabulkan untuk kita.

Yang mungkin jarang kita lakukan ketika kita punya keinginan yang luar biasa adalah mendoakan orang lain, seperti itu yang disampaikan KH Hasan.

Pernahkan kalian mendoakan tetangga kalian agar diberi rizki yang berlimpah, sedang kalian sendiri dalam kondisi terhimpit hutang yang sangaaat banyak. Pernahkah kalian mendoakan agar saudara-saudara, tetangga, bahkan seluruh umat dimuka bumi yang sakit akan disembuhkan sakitnya oleh Allah, sedang kalian sendiri dalam keadaan terbaring lemah karena sakit pula.

Mungkin aneh dan terkesan memalukan jika kita sedang tidak punya stok makanan, tiba-tiba mendatangi rumah tetangga kita dan bertanya,

“ Punya makanan gak Pakdhe??”.

“ Gak ada, cuma ada pisang goreng tuh”, jawab pemilik rumah.

Lalu kita mengajak seisi rumah itu berkumpul dan kita memimpin doa,

“Saya juga belum makan. hmm saya doakan mau gak Pakdhe? Aminkan bareng-bareng ya… Allhumma  Ya Allah, limpahkan rizkimu yang halal, yang berkah, yang banyak supaya kami bisa makan…..dst”, terus kita pulang.

Tetangga kita mungkin akan berfikir, “Gila kali tuh orang. Sama-sama lapernya aja pake baca doa”.

Satu hal yang mungkin perlu direnungkan bahwa ketika kita mendoakan orang lain, maka malaikat Allah yang akan mendoakan kita..Subhanallah.

Mau didoakan Malaikat? Maka berdoalah untuk sesamamu dan Allah maha mengetahui saat yang terbaik untuk mengabulkan doa dan keinginan hambanya..

~Zoel Auliya~

Negeri ‘Tukang Jagal’

Miris rasanya ketika di media menyampaikan berita tentang pembunuhan dengan mutilasi atau memotong-memotong korban. Tak henti-hentinya saya berfikir, apa yang ada di benak orang-orang yang tega melakukan mutilasi kawan, sahabat dan bahkan anggota keluarga mereka sendiri. Apakah pelaku mutilasi itu masih bisa disebut waras 100% atau setengah gila. Ketika harus menghilangkan nyawa orang lain bahkan sampai memotong-motong bagian tubuh orang apakah mereka dalam kondisi sadar.

Beberapa waktu terakhir ini kita disuguhkan dengan serentetan kasus pembunuhan mutilasi, mulai suami yang memutilasi istrinya karena cemburu, sampai yang gara-gara uang. Kasus paling menggegerkan adalah sang ‘jagal’ very idham henyansyah alias ryan jombang yang menghabisi 11 nyawa karena cinta sesama jenis. Baekuni alias Babe yang memutilasi 7 orang anak setelah disetubuhi.

Bagaimana cacatan akhlak bangsa kita dibeberapa tahun terakhir ini? Apakah kasus-kasus yang seperti ini dianggap hal sepele? Rasanya tidak bisa disebut begitu.

Kita hidup bertetangga, berkomunikasi dengan sekitar. Lalu bagaimana orang terkadang tidak tahu bahwa tetangganya sedang ‘mencincang’ manusia. Individualisme masyarakat saat ini sudah melewati ambang batas kah?

Jika ditelusuri dari sisi pendidikan, ekonomi dan aspek sosial lainnya kita akan menemukan banyak faktor yang menjadi penyebab kenapa seseorang bisa tega berbuat seperti itu.

Saya mungkin lebih mendapat point bahwa semua karena tipisnya iman seseorang. Tidak ada lagi rasa takut pada Tuhan sang Maha Pencipta dan memiliki kehidupan. Dengan entengnya mereka membunuh. Ngasih nyawa enggak,,malah menghilangkan nyawa orang lain. Tipis sekali rasanya kesadaran orang-orang itu.

Jagal ayam, jagal sapi itu memang sebuah pekerjaan, tetapi jika jagal manusia rasanya itu adalah sangat sangat sangaaat tidak manusiawi. Sederet kasus mutilasi yang terjadi harusnya sudah menjadi tugas seluruh lapisan masyarakat untuk berbenah. Ataukah kita akan membiarkan para penjagal-penjagal itu merusak negeri ini?

 

~Zoel Auliya~

Apa yang hendak kau tuju?

Seorang anak kecil yang duduk di bangku sekolah TK menghampiri ibunya dan berkata, “ Bu adek mau sekolah SD, pake seragam merah putih. Adek ga mau sekolah TK”, setelah dia melihat kakaknya yang duduk dibangku SD memakai baju seragam dan berangkat sekolah.

Disudut lain bumi Allah, seorang anak SD ingin seggera lulus dan segera masuk ke SMP. Pun demikian dengan seorang anak SMA yang selalu berapi-api agar segela lulus dan segera ingin duduk di bangku kuliah, yang sedang kuliah ingon segera bekerja.

Itulah kita. Bahwa dalam setiap fase kehidupan, kita memiliki tujuan yang membuat langkah kita terarah pada satu titik capaian.

Tetapi dari setiap fase yang kita lewati, kapan kita sadar akan tujuan hakiki dari kehidupan kita didunia ini?

Terkadang setelah menginjak usia dewasa pun kita belum mampu memahami kemana hidup akan dibawa. Saat ini kita ingin kesana, tetapi sesaat kemudian kita berubah arah. Namun, pernahkah kita merenung, bahwa sesungguhnya setiap apa yang kita inginkan itu diijabah? Sekalipun ditengah perjalanan kita akan berubah pikiran dan merubah keinginan kita.

Kita hanya menjejakkan kaki dibumi sebatas mampir mempersiapkan bekal untuk kehidupan yang sesungguhnya. Kita boleh mempersiapkan bekal sebanyak mungkin atau bahkan tidak peduli sama sekali dengan semua itu. Boleh saja.

Allah menciptakan kita sebagai khalifah dibumiNYA. Apakah kita membuat bumi ini semakin sejahtera, berkah. Apakah kita menjadi makhluk yang bermanfaat untuk yang lain atau justru sebaliknya menciptakan banyak kemudharatan dibumi ini, juga boleh. Seperti ketika para malaikat harus bertanya kepada Allah mengapa Allah menciptakan makhluk yang justru merusak bumi. Tetapi Allah menjawab bahwa Sesungguhnya Allah maha mengetahui segala sesuatu yang tidak diketahui hambaNYA. Kita menjadi makhluk ciptaaNYA yang paling sempurna diantara yang lain, semoga tidak membuat kita lengah akan tujuan akhir perjalanan kita di muka bumi.

 

~Zoel Auliya~