Surat Buat Aby

Ketika hatiku yang lemah ini bimbang akan setiap majlis ilmu yang ada di sekelilingku,aku bimbang dengan berbagai paham dan pembaruan ilmu yang semakin jauh dari asal,namun aku masih semangat apabila mendengar setiap nasehat dan teguran dari ayahku…

Wahai Abi…setiap kata yang kau tuturkan menjadi kekuatan bagiku,untuk terus semangat melangkah didalam aliran Ahlul Sunnah Waljamaah…

Wahai Abi…..setiap teguranmu menjadi ketabahan bagiku untuk terus sabar dalam melangkah memperjuangkan panji Ahlul Sunnah Waljamaah..

Wahai Abi…setiap alunan suaramu menjadi keriangan kepadaku untuk terus bersyukur dalam melangkah bersama lafaz “Alhamdulillah” pada setiap ujian dan cobaan yang menerpaku..

Maka…wahai abi..teruslah “membentuk” anakmu yang lemah ini dengan ilmu Iman dan Islam yang diamalkan pada jasadmu dan hatimu..Amin amin..Ya Rabbal’alamin…

Engkaulah Guruku di ketika aku membuka mata..engkaulah Guruku di ketika aku mendengar alunan adzan..engkaulah Guruku di ketika aku dalam kealpaan..

dan..sesungguhnya Allah SWT Tuhan Yang Maha Kuasa, Tuhan Yang Maha Mengetahui..


Disalin dari :https://kembanganggrek.wordpress.com

Zoel Auliya

Aduhai Putriku Sayang

Lirik lagu ini dulu sering kunyanyikan waktu masih kuliah
Sangat menyentuh
dan aku yakin setiap anak perempuan
pasti ingin mendengar kata-kata seperti itu dari orang tuanya
dan aku yakin setiap orang tua pasti ingin memiliki anak perempuan
seperti dalam lagu itu

Lembut mu tak bererti kau mudah dijual beli
Kau mampu menyaingi lelaki dalam berbakti
Lembut bukan hiasan bukan jua kebanggaan
Tapi kau sayap kiri pada suami yang sejati

Disebalik bersih wajah mu disebalik tabir diri mu
Ada rahsia agung tersembunyi dalam diri
Itulah sekeping hati yang takut pada ilahi
Berpegang pada janji mengabdikan diri

Malu mu mahkota yang tidak perlukan singgahsana
Tapi ia berkuasa menjaga diri dan nama
Tiada siapa yang akan boleh merampasnya
Melainkan kau sendiri yang pergi menyerah diri

Ketegasan mu umpama benteng negara dan agama
Dari dirobohkan dan jua dari dibinasakannya
Wahai puteriku sayang kau bunga terpelihara
Mahligai syurga itulah tempatnya

Putriku Sayang By Hijjaz

Bimbang

Sesaat langkahku didera jutaan ragu
Seolah membuat seluruh tubuh kelu

Yakinku kini serasa tersita
Senyumpun serasa tertawan
Olehnya yang tak pernah kusapa
Dalam wujud jasad jiwa

Dalam bimbangku semoga Dia mendekapku
Dengan sinaran cahya suci
Yang kan membawaku
Pada pemilik hati sejati

Zoel Auliya

Wisuda Akbar

Wisuda Akbar Indonesia menghafal kedua yang diselenggarakan oleh PPPA Darul Quran pada tanggal 16 Mei lalu sungguh luar biasa. Minat orang untuk terus mempelajari Al Quran terus bertambah ditengah hiruk pikuk dunia yang terkadang membuat banyak insan lupa akan tuntunan hidupnya.

Dari 3000 peserta pada tahun kemarin, kali ini meningkat menjadi lebih dari 5000 peserta dari berbagai kalangan usia. Anak-anak usia sekolah dasar cukup banyak, ibu-ibu, kakek-kakek hingga tatap mata saya tertuju pada dua orang tuna netra yang juga hadir disana. Subhanallah !!

Keyakinan saya tak terkikis sedikitpun bahwa hal itu akan membuat ribuan malaikat dilangit terpesona dan tertarik untuk melirik kita semua. Tiang-tiang ‘Arsy pun mungkin bergetar dan bergemuruh kencang jika ribuan umat Islam memuliakan Al Quran. Allahu Akbar

Pun demikian begitu indah cara Allah memuliakan sabdaNYA. Dimana disatu sisi banyak orang menjadikan Al Quran sebagai pelengkap mahar dalam akad nikah dan tetntunya hanya sebatas menjadi pajangan saja, namun disisi lain ada sekelompok insan mulia yang ingin tetap menjaga kalamullah hingga akhir hayatnya. Walaupun telah jelas disampaikan bahwa diakhir zaman kelak Al Quran hanya akan menjadi pajangan semata yang dilupakan banyak orang, bahkan orang Islam sendiri, namun tidak ada salahnya jika kita berjuang untuk tetap menjaga Al Quran hingga titik darah penghabisan.

Yang tak kalah luar biasanya, dari sekian jumlah doorprize yang disiapkan oleh panitia, doorprize utama dimenangkan oleh anak-anak juga. Beberapa hadia umrohpun dipegang anak-anak.

Satu hal yang tampak dalam pandangan saya, bahwa Ust. Yusuf Mansur sebagai mu’asis PPPA darul Quran memiliki cara yang luar biasa untuk memuliakan orang-orang yang memuliakan kalamullah dan menarik minat banyak orang untuk kembali kepada Al Quran.

Sahabat, ketika engkau berjuang memuliakan agama Allah, satu hal harus engkau tahu, bahwa Rabbmu mempunyai cara yang unik pula untuk memuliakan setiap hambanya yang layak untuk dimuliakan dengan alas an apapun. Jika ada yang bertanya, seperti apa caranya??

Maka jawabku adalah cobalah untuk memuliakanNYA maka DIA akan memuliakanmu

~Zoel Auliya~

Kisah tentang Kesabaran dan Keikhlasan

Ceritaku kali ini mungkin hanya akan menghadirkan cuplikan-cuplikan adegan kehidupan yang kutemui dalam langkahku menapaki bumi Ilahi. Namun, segenap kisah ini membuatku belajar dan belajar banyak hal tentang pendar cahaya kehidupan yang beraneka rupa.

Dan satu hal yang mungkin harus diketahui, bahwa kisah itu saat ini masih terjadi. jika satu saat nanti aku mendapat ending dari kisah itu, akan kuceritakan kepada dunia.

Pendar cahaya tentang kisah seorang anak perempuan yang rela tetap berada dirumah menepis segenap asa dan cita demi untuk mengabdikan diri untuk sang Ibu. Walaupun dia telah menyelesaikan kuliahnya dan seharusnya dia mampu mengembangkan kariernya sesuai dengan bidang ilmu yang dia tekuni, namun dia memilih untuk mengikhlaskan dirinya bekerja apa adanya agar dapat tetap berada di rumah dan bisa merawat Ibundanya. Saudaraku, mungkin apa yang kau kerjakan tidaklah nampak keren dalam tatap mata duniawi, tetapi baktimu kepada ibumu akan membawamu kepada syurga Rabb mu kelak. Kesabaran dan keikhlasan hatimu menawanku.

Pendar cahaya tentang perjuangan seorang anak gadis untuk menutup auratnya. Namun yang terjadi adalah, ayahnya keras menolak keputusan sang anak. Ayah merasa anaknya sudah salah mengambil keputusan dan tidaklah penting harus mengenakan jilbab setiap saat.” Cukuplah kau kenakan jilbabmu pada moment-moment tertentu saja, Nak” kata ayah. Serasa hancur hati sang gadis. Ayah yang diharapkannya mendukung setiap langkahnya menuju ketaatan dalam berbakti kepada Allah, justru meremehkan dan menentang langkahnya. Dua tahun tak terasa terlewati langkah berat perjuangannya untuk membuka hati sang ayah yang tak kunjung luluh. Berharap Allah yang maha Lembut melembutkan hati sang ayah, berharap Allah yang maha pemberi hidayah membuka hati ayahnya. Namun hingga saat ini, sang ayah tetap bersikeras bahwa langkah anaknya adalah salah.
Saudaraku, tiap tetes air matamu dalam kesabaran dan keikhlasanmu insyaallah membuat segenap malaikat di langit terpesona. Terkadang jalan menuju kebaikan sangatlah curam dan penuh liku. Mungkin Allah sedang menyapamu dengan segenap caranya yang terkadang tak dapat terbaca oleh indera kita, Dia sedang menyiapkan dirimu untuk menjadi layak dimuliakan.

Adalah pendar cahaya tentang perjuangan seorang anak yang harus kehilangan rumah yang telah diamanahkan kepadanya. Dalam cita-citanya mengemban amanah mulia itu dia bertekad untuk tidak menggunakan rumah tersebut untuk kepentingannya sendiri. Niat dihatinya adalah menjadikan rumah tersebut sebagai panti asuhan untuk anak-anak yatim piatu agar pahala amal shaleh tetap terlimpah kepada sang pemberi amanah. Namun sepertinya Allah berkehendak lain, semua menjadi hancur karena ada yang merebut amanahnya.
Hmmm…, saudaraku….mungkin cita-citamu belumlah hancur, hanya sesaat tertunda. Allah sang Maha menatap dan maha mendengar telah mendengar niat muliamu. Ikhlaskan semua, dan bersiaplah untuk menyambut saat dimana akan kau dapat apa yang kau cita-citakan. Fainsyaalah…

Tunggu pendar-pendar cahaya berikutnya ya….
tobe continued

Zoel Auliya

Setiap yang Datang, akan Hilang…

Ketika sesuatu hadir menyapa dalam kehidupan kita, apapun bentuknya, berbagai ekspresi muncul sebagai reaksi hal itu.
Bahagia, senang, tertawa, acuh tak acuh, benci, marah dan berbagai reaksi bisa saja muncul tanpa kita sadari.

Namun semua itu merupakan perwujudan dari hati kita dalam bersikap terhadap yang hadir.
Pun demikian ketika ada sesuatu yang tiba-tiba pergi dan menghilang dari dalam kehidupan kita.
Isak tangis, duka, bahagia, tertawa bahagia bisa saja muncul.

Kata-kataku terlalu puitis,,
Dua hari selama perjalanan ziarah ke makam auliya di bumi jawa timur, kupegangi terus tuh sandal biar ga digondol orang.
Ku siapkan kantong plastik untuk membawanya serta masuk kedalam masjid yang berstatus “SUCI”.

Sepertinya Allah tidak suka dengan caraku itu,sejenak aku mengerjakan sholat maghrib dan isya’ (jama’+qhosor pula hehehehe) di mushola stasiun sembari menanti keretaku datang.
WHAT!!!
Sendalku ilang!!!
Huuuaaaaaaaa…..hikss…hikss…Sendal kesayanganku ilaaaannggg…..
Empat rakaat terlewati dengan cepat dan secepat itu pula maling mengambil sendalku.
Walaupun bukan sandal yang mahal, tapi dia saksi sejarah dalam mendampingi kakiku melangkah…

Walaupun masih bisa beli lagi, tapi rasanya akan berbeda…

Saudaraku sedikit pelajaran yang terlintas dalam benakku,
Bahwa yang tersayang akan hilang,
Bahwa yang tercinta akan sirna,
Bahwa yang terindah akan musnah,
Bahwa yang terkasih akan tersisih,

Tinggal menunggu saat yang terbaik..

~Zoel Auliya~

2+2 = 4 Rakaat

Aku muncul neh Brow..
salam ‘alaik…

“Cepetan sholat isya’,,keburu ngantuuuukkkk”, ibuku sudah mulai teriak memerintahkan aku sholat.
“bentar lagi Bu”, jawabku.
“Cepetan keburu di tinggal malaikat”, ngono kuwi jarene ibuku..

Dengan langkah males bin aras-arasen aku ambil sandal bakiak,
trus wudhu (maklum ya Brow,,aku masih belum sadar kalo sholat itu hukumnya wajib, jadi masih amburadul sholat ku hehehehe).

Dalam waktu sekejab mata aku selesai wudhu, masuk kamar dan sholat.
Allahu Akbar..
Sami’allahu liman hamidah..
Allahu akbar..

Taraaaa..
dalam waktu 2 menit sholatku selesai.
Keluar kamar langsung ibu kaget.
” Hah !!! sudah selesai sholatnya??”
” Berapa rokaat??”

Setelah kuingat-ingat dengan baik,,
aku baru sholat 2 rakaat..(hihihihihi)..pancen amburadul tenan kok aku iki.

” Ulang lagi sholatnya”, teriak ibu

Dua menit berikutnya aku sudah keluar kamar lagi..
” Kok cepet sholat e?? Sudah bener 4 rakaat??, tanya ibuku.

Dengan gaya tanpa ekspresi kujelaskan kepada ibuku..
“Tadi kan aku sudah sholat 2 rakaat Bu,,terus barusan tak tambah dua rakaat lagi. Dua tambah dua kan sudah jadi empat rakaat??”

Ibuku ngakak meneh..
Sholatku tak kredit

“Gus Wan”