Tasbih…

Kehidupan laksana sebuah tasbih
berawal dan berakhir di titik yang sama
Bukan tasbih jika hanya satu butir
dan bukan kehidupan jika hanya satu dimensi
Kehidupan akan sempurna jika telah melewati serangkaian untaian butiran
suka, duka, derita, bahagia, gembira, gagal sukses, pasang dan surut.
Seperti tasbih yang melingkar kehidupan pun demikian
Kemanapun pergi dan berlari tetap masih dalam lingkar takdir Alloh SWT
dari-Nya kehidupan dimulai dan kepada-Nya kehidupan kan berakhir

Dalam melewati untaian butir dimensi kehidupan akan banyak pelajaran hidup yang kita dapat dan ketika lingkaran kehidupan itu telah sampai pada ujungnya, maka berjuta kisah semoga menjadi penghias langkah kita menuju titik akhir lingkaran itu..

Jangan pernah lelah untuk bangkit jika satu ketika saat engkau terjatuh dalam 1 untaian kisah hidupmu.
Jangan pernah lalai atas kuasaNYA ketika tawa bahagia hadir menyapa kita pada butir kehidupan berikutnya..

Pelajaran Sabar di Ruang Tunggu Rumah Sakit

Kamis, 13-10-2011 seperti biasa merupakan jadwalku ke rumah sakit untuk cek perkembangan tulangku yang bermasalah karena kecelakaan itu. Menunggu antrian nomor urut, seorang ibu menyapaku karena melihat tangan kiriku harus “tak gendong”.
Sedikit aku bercerita apa yang terjadi dengan tanganku, si ibu meringis sembari mengernyitkan dahinya mendengar ceritaku. Dalam hati aku berkata sambil memelas pada diriku sendiri,,sepertinya aku sangat layak untuk dikasihani.

Sambil menahan senyum, akupun balik bertanya kepadanya, kenapa dia mengantri bersamaku disini. Aku tidak hanya mengernyitkan dahi sesaat setelah dia bilang bahwa dia sakit tumor.
Astaghfirullah…(aku merinding mendengar jawaban sang ibu).

Apa yang salah dengan percakapan singkat kami tersebut??
Dia meringis mendengar tanganku patah & kepalaku yang bocor karena kecelakaan padahal menurutku penyakitnya lebih mengerikan dari yang sedang aku alami.

Akupun berpindah ke ruang antrian berikutnya. Sembari menunggu, seorang ibu diatas kursi roda diangkat suaminya dan duduk di depan kursiku. Senyumnya indah, walau dia harus dipapah seraya menyapaku dengan suara yang ramah.

Lagi-lagi pertanyaan tertuju kepada tangan yang aku gendong. Iba sekali ibu itu menatapku, tapi lagi-lagi aku harus merinding mendengar cerita orang lain yang justru iba melihatku. Ibu yang satu ini mengalami gagal ginjal. Dua kali dalam seminggu dia harus melakukan cuci darah agar seluruh tubuhnya tidak teracuni oleh darah yang tidak dapat disaring oleh ginjalnya.

Allahu Ya Kariim..
Dia memegang tangan kananku dan meletakkan tanganku diatas lengan kanannya. Dia memintaku meraba sebuah alat yang terpasang di tangan kanannya untuk mempermudah proses hemofialisanya.
Cimino, nama alat itu. Dia seperti pipa sebesar pembuluh darah vena dan bergetar seperti aliran air. Dipasang menyambung dengan pembuluh darah yang ada di lengan sang ibu.

Allahu Akbar…ternyata ada yang lebih mengerikan lagi.

Namun hati penuh syukur bisa kurasakan dari senyum yang tersungging indah diwajahnya. “Alhamdulillah Nak”..kata itu terselip ketika dia bercerita bahwa kondisinya sempat mencapai titik yang jauh lebih parah dari sekarang. Selang hemodialisa dipasang di pembuluh darah lehernya, tangannya dipasang infus dan selang transfusi darah. Semua makanan yang masuk kedalam mulutnya terasa pahit. Merinding seluruh tubuhku mendengar kisahnya. Hemodialisa terus dilakukan untuk bertahan hidup.

“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung” (QS: Ali Imron : 200).

Dua jam di ruang tunggu, memberi banyak pelajaran bagiku tentang keindahan dan kemuliaan sebuah kesabaran.

~Zoel Auliya~

06 September 2011 pukul 16.45 WIB..Nyungsep lagii…

Hari itu tidak ada yang berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Aku datang ke kantor dan melakukan aktifitas rutin seperti biasa. Seharian lagu terbaru sulis terus berputar di komputerku. Hanya lagu riang berjudul dzikir anak itu yang terdengar. Tidak ada tanda-tanda bahwa akan terjadi sesuatu yang significant.

Pukul 16.40 aku dan dua orang teman lainnya ingin segera pulang dan beristirahat. Sampai diujung gerbang kantor, hanya aku yang akan menyebrang jalan karena dua orang temanku berjalan searah dengan arah kantor.

16.45 seorang satpam membantuku menyebrang jalan dan dia menghentikan laju sebuah mobil dari arah barat. Akupun menyebrang dan seperti biasanya kata terimakasih tidak boleh lupa terucap untuk semua orang yang membantu kita, siapapun itu.
Namun yang terjadi selangkah berikutnya setelah kata TERIMAKASIH, PAK terucap dari mulutku, sebuah motor dari arah barat menyambarku dan BRAAAKKK!!!

Motor yang melaju kencang itu menyambarku. Badanku sempat terpelanting berputar dan akhirnya aku terjatuh di tengah jalan raya. Kepalaku menghantam lampu marka jalan yang menempel di aspal. Satpam itu langsung mengangkatku dan membawa ke pos.

Aku dibaringkan dibawah, kepalaku sudah berdarah, badanku pucat, mataku terbuka, darahpun keluar dari hidungku dan aku sempat kejang, itu tutur pak satpam yang menolongku. Dia menepuk-nepuk badanku berusaha menyadarkanku. Akhirnya ada ibu-ibu satu ruangan yang mengenali aku, semua teriak, “…Zulfaaa…Ya Allah..Zulfaaa…itu Zulfaa yang pingsan”.

Keributanpun sempat terjadi di pintu gerbang kantor. Semua orang berusaha menolongku. Aku sempat dibawa ke klinik, tapi klinik sudah tutup. Akhirnya beberapa orang langsung mengangkatku ke mobil dan membawaku ke Rumah sakit MH Thamrin.

Hampir satu jam aku tidak sadar dengan kondisi yang cukup menakutkan, seorang dokter berusaha mencari sumber darah yang mengalir dari kepalaku, membersihkan darah dari hidungku dan memasang sebuah selang oksigen. Beberapa saat setelah dokter menemukan luka robek di kepalaku, dia membersihkan gumpalan-gumpalan darah yang sempat mongering dikepalaku, hingga darah segar mengucur kembali dari kepalaku barulah aku tersadar. Kedua mataku mulai terbuka dan berusaha mengenali teman-teman yang menyapaku..” Sabar ya Zul…Zulfa harus kuat”..
Tiga buah jahitan menutup luka robek dan perban penuh membalut kepalaku yang sepertinya hampir pecah.

Aku harus dirujuk ke RS Ciptomangunkusumo karena kepalaku harus di CT Scan untuk memastikan bahwa tidak ada gangguan gegar otak atau pendarahan di otakku. CT Scan, roentgen X Ray dan semua pemeriksaan dilakukan ulang. Hingga hasil menunjukkan bahwa kepalaku aman. Alhamdulillah,,,walaupun tangan kiriku harus dipasang gips karena patah, tapi pukul 01.00 tengah malam aku bisa meninggalkan UGD malam itu juga. Semua kejadian sebelum kepalaku dijahit,,tidak ada yang kuingat satupun. Semua cerita lengkap itu aku peroleh dari Pak Satpam yang menyaksikan kejadian itu dan semua teman-teman yang menolongku.

Dzat yang Maha Lembut lagi-lagi menyapaku dengan ujiannya.
Mungkin DIA menghukumku,
mungkin DIA ingin menghapus dosaku,
mungkin juga DIA ingin menganugerahiku sesuatu,
Wallahua’ lam..hanya DIA yang mengetahui sebenar-benar kehendakNYA.

Banyak pelajaran yang kudapat dalam kejadian ini..

Gambar-gambar ini sebagai saksi sejarah, aku nyungsep di aspal untuk yang kedua kalinya.

Bahwa kesabaran itu tanpa batas, ketika semua menjadi sempit maka kitalah yang menjadikannya sempit hingga terkadang serasa tanpa ruang gerak..

~Zoel Auliya~
(Masih lebih beruntung aku daripada Simoncelli..)

Sajak Tanpa Nama

Senyum asing itu tak teraba inderaku
Berjuta kias makna dalam sekejab sapa
Seolah sirna seketika
Tanpa menjejak alam nyata

Langkahku tak ingin terhenti olehnya
Yang tak pernah kutegur sapa
Pun tidak kudengar alun suaranya
Dalam denting dawai sukma

Bersama asa yang tak kuharap pudar
Kubalut senyum dalam munajat doa
Kuukir cita dalam daya cipta
Kuseka nestapa dalam relung jiwa

Andai tiada hijab menghalang
Andai tiada jarak merentang
Ku turut setiap deru langkah itu

Dengan kelembutanNYA aku menyapa setiap hati
Dengan pandanganNYA aku menatap setiap senyum
Dengan cahayaNYA aku melangkah pasti
Dengan kuasaNYA aku menguatkan diri

Mencari pribadi yang tak terlukis dalam sifat
Mencari diri yang tak tertoreh dalam jiwa
Mencari kelebihan yang kan mewarnai kekurangan
Mencari kekurangan yang berbalut kemuliaan


~Zoel Auliya~

Suaraku….

Salam’Alaik, Bro!!

Ketemu maneh…
Satu demi satu tropi sudah aku kumpulkan. Dari lomba adzan dan qiroati.
Aku sudah berhasil unjuk gigi dan show my voice di Ibu kota propinsiku. Suroboyo.
Makin keren wae tho aku…hihihihih


Walaupun dalam salah satu lomba para panitianya curang, aku sengaja dibuat kalah tak trimo walaupun dengan ati dongkol. Tunggu giliranku menyabet semua juara..hehehehe.

Satu saat kelak, aku pingin dapat banyak tropi dari lomba adzan dan qiroati, tapi kadang-kadang aku masih males belajar dan meningkatkan kemampuanku. Setan yang bisik-bisik di telingaku hebat juga lho…aku dibisikin terus,,biar males latihan. A’udzubillahi minasysyaithoonirrojiimm…ccuuihh..cuuiihh..minggato sing adoh poro setan.

Semoga suatu saat nanti suaraku bisa di dengar oleh banyak telinga yang menunggu panggilan sholat dan semoga satu saat nanti aku ga cuma jadi qori’ di desaku, tapi ke seluruh penjuru negeri. Amiiinn


“Gus Wan”