Anugrah atau Musibah?

image

Bantuan Langsung Tunai yang merupakan program bantuan sejak pemerintahan presiden SBY yang pelaksanaannya berlanjut hingga saat ini. Hal itu awalnya dipandang sebagai solusi untuk warga kurang mampu ketika pemerintah mengambil kebijakan menaikkan beberapa harga.

Tetapi jika kita mencermati, pendataan warga kurang mampu sering tidak adil. Banyak masyarakat yang ikut berderet dalam antrian tetapi perhiasannya juga sederet. BLT tidak bersifat memberdayakan, tapi membuat orang bergantung pada datangnya uang.

Iya!!
Uang adalah sesuatu yang menarik bagi seluruh rakyat Indonesia. Tanpa terkecuali.
Dan pagi ini pencairan BLT di surabaya pun dimulai. Antrian mengular di halaman kantor pos sepertinya mencapai 200 mtr lebih. Sempat saya tanya kepada tukang becak yang mangkal di dekat kantor pos..
” Pasti dari subuh ya Pak antriannya?”
” Jam 3 malam tadi sudah ada yang antri neng”.

Luar biasa!
Bahkan selalu ada insiden warga yang pingsan dalam antrian. Bagaimana tidak, karena budaya antri yang kurang bersahaja, warga harus berdiri sejak loket belum dibuka dan ketika loket mulai dibuka mereka mulai berdesakan dan ribut karena takut tidak kebagian. Bayangkan saja untuk antri sejak pagi, orang harus tetap makan dan minum. Kesempatan emas bagi pedagang asongan.
BLT belum ditangan, tapi mulut dan perut sudah minta makan.

Sejumlah 300-400 ribu yang dibagikan pemerintah itu, terkadang malah menjadi bencana jika pengelolaannya tidak baik. Tetapi pemerintah menilai semua baik-baik saja.
(*aku rapopo)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s