Tidak Hanya Raga, tapi Jiwa Harus di Olah…

ngajiBeberapa waktu lalu kita disuguhi dengan berita seorang anak berusia 13 tahun yang membawa mobil tengah malam, mengantar pacarnya pulang dan mengalami kecelakaan hingga tujuh nyawa terenggut karena kejadian kelakaan tersebut. Yupz !! AQJ sang jagoan kecil itu. Apa yang terbersit dalam benak Anda?

 

Sebuah kondisi yang sebenarnya miris. Anak seusia itu pada tengah malam harusnya tidur dirumah. Adakah yang salah dengan AQJ? Pihak sekolah tempat AQJ belajar menyampaikan bahwa AQJ sudah tidak lagi belajar di sekolah itu karena absennya tidak tertib. Jadwal syuting dan aktifitas keartisannya membuat anak itu lepas dari masa-masa pendidikan dan bersosialisasi di sekolah. Seorang anak dalam masa perkembangannya, menjadi cerdas dan pandai saja itu tidak cukup. Tetapi belajar tentang memahami, tentang mengerti sesuatu, tentang tanggungjawab, tentang sabar itu tidak kalah pentingnya.

 

Karena kejadian ini dan seringnya ada kejadian tawuran antar pelajar, membuat Gubernur DKI memberlakukan jam malam untuk pelajar. Supaya anak-anak terawasi dan tidak keluyuran tengah malam. Apakah ini efektif untuk pertumbuhan jiwa dan raga seorang anak?

 

Jika kita mau merenung sejenak untuk memahami bahwa manusia itu terdiri dari raga dan ruh.  Jika kita tidak menjaga keduanya dengan seimbang, maka akan banyak hal yang tidak selaras muncul dalam kehidupan.

 

Saya memperhatikan anak-anak yang waktunya dihabiskan untuk sekolah, les tambahan, les musik, latihan renang, menari, sepak bola dan banyak lagi aktivitasnya. Semua mengolah  raga dan sangat sedikit sekali porsi waktu untuk mengolah ruhiyah. Semua aktifitasnya adalah untuk meningkatkan kecerdasan, prestasi, kognitif, afektif, psikomotorik atau apapun itu istilahnya dalam dunia pendidikan.

 

Sebenarnya tidak perlu jam malam dengan kelompok belajar, cukup menggiring anak-anak itu ke pesantren, ke masjid, ke mushola paling dekat dengan tempat tinggalnya. Membentuk akhlak, menata akidah, mengajarkan tentang iman, menuntun hati anak-anak agar seimbang pula mereka berjalan menapaki kehidupan. Tidak melulu anak harus dijejali dengan teori dan rumus pelajaran sekolah.

 

Ketika jiwa dibimbing, di olah dan diarahkan kepada jalan yang benar, mungkin tidak akan ada orang tua yang harus marah-marah setiap hari memerintahkan anak-anaknya untuk melakukan ini dan itu. Cukuplah anak-anak itu diajarkan tentang agama, maka hatinya akan mudah untuk diarahkan.

 

Jika sehari semalam seorang anak dibentuk akalnya, kecerdasannya tanpa di olah jiwanya, jikapun dia menjadi orang pinter disatu saat kelak, bisa jadi dia menjadi orang yang pinter dan sering keblinger. Atau bahkan akan terbentuk pribadi-pribadi yang cerdas tetapi rapuh dalam menghadapi masalah. Seandainya saja menteri pendidikan kita membuat sebuah peraturan untuk mewajibkan anak-anak sekolah pergi ngaji juga, mungkin kita tidak akan melihat pemandangan anak sekolah tawuran atau bahkan melakukan tindak kriminal.

 

Sebuah tanggung jawab besar ada dipundak seluruh pihak untuk membentuk generasi yang utuh….. jiwa dan raganya.

 

~Zoel Auliya~

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s