Pelayanan Kesehatan Pro Rakyat (..Katanya..)

Beberapa waktu terakhir kita disuguhkan dengan berita tentang buruknya sistem pelayanan kesehatan dinegeri kita tercinta.

Bayi prematur dari keluarga miskin, tidak tertolong nyawanya karena tidak mendapat tindakan secepatnya. Ada juga yang dinyatakan meninggal, setelah dibawa pulang, ternyata masih hidup. Mati suri itu istilahnya dan ketika dibawa kembali ke rumah sakit, pihak rumah sakit cuek.

Jika mencari siapa yang salah, maka tidak ada satu pihak pun yang mau disalahkan.

Lalu apa yang harus dilakukan?

Kebijkan pemerintah harus dicermati dan dievaluasi. Sarana pelayanan kesehatan secara umum berada dibawah wilayah pemerintah daerah setempat, yang tentunya berada dalam pantauan dan jaring kebnijakan dari pemerintah pusat.

Ketika pimpinan pemerintah daerah mengambil keputusan memberikan pelayanan yang baik untuk masyarakat, terutama masyarakat miskin, sangat perlu diperhatikan perbandingan jumlah penduduk dan jumlah sarana pelayanan kesehatan yang ada di wilayah tesebut.

Pengalaman nyata yang pernah saya alami dan ini membuat saya tertegun, luar biasa takjub. RSUD Dr. Soetomo Surabaya adalah pusat rujukan untuk RS diwilayah Indonesia timur, selain itu dia juga menjadi pusat rujukan untuk seluruh warga Surabaya dan Jawa Timur.

Pemimpin daerah hanya mau kebijakannya, yang ‘pro rakyat’ katanya, dilaksanakan dengan baik. Mereka tidak melihat kapasitas sarana pelayanan kesehatan tersebut. Maka pemandangan yang disuguhkan pada kita setiap hari di rumah sakit tersebut adalah, antrian yang mengular. Baik antrian untuk kontrol setiap hari maupun antrian untuk rawat inap. PUSKESMAS RAKSASA, istilah itu sangat cocok untu menyebut rumah sakit milik pemerintah tersebut.

Jika penyakit kita masih bisa ditunda-ditunda penanganannya untuk dilakukan rawat inap, maka antrian paling tidak 1 bulan. Gila kali yeee..

Jumlah bed di rumah sakit tersebut sangat tidak mencukupi untuk menampung dan melaksanakan kebijakan pimpinan daerah untuk melayani seluruh warganya yang membutuhkan.

Jika kita orang miskin dan tidak mendapat pelayanan yang terbaik dari sarana pelayanan kesehatan yang kita tuju, sebenarnya bukan pada pihak rumah sakit itu akar permasalahannya. Tetapi pada kebijakan pemerintah yang tidak melihat kondisi di lapangan ketika menentukan kebijakan.

Bukan orang miskin tidak boleh sakit dan tidak bisa merasakan layanan yang baik pada sarana kesehatan yang ada, tapi kebijakan pemerintah harus diimbangi dengan ketersediaan sarana pelayanan kesehatan yang memadai dengan sistem yang tertata dengan baik.

Tidak semua pasien sakit, mentang-mentang gratis, berobat ke rumah sakit pusat rujukan. Jika masih bisa ditangani di puskesmas, maka datanglah ke puskesmas. Tetapi jika kondisinya semakin darurat pihak puskesmas bisa merujuk ke rumah sakit.

Jika hal ini bisa berjalan dengan baik, maka rumah sakit pusat rujukan atau rumah sakit yang melayani rujukan tidak akan mengalami penumpukkan pasien. Masih ada jatah kamar dan bed kosong untuk pasien.

Hingga sejauh ini, tidak adakah yang mengevaluasi kebijakan pemerintah dalam bidang pelayanan kesehatan untuk jangka kedepan?

Seharusnya pimpinan daerah atau pusat tidak hanya disodori jumlah pasien yang tertangani dan sembuh karena berobat di sarana pelayanan tersebut, tetapi perlu juga disodori hasil kajian jumlah pasien yang tidak tertangani karena kapasitas ruang rawat inap pasien tidak mencukupi. Berapa banyak pasien yang putus berobat karena meninggal dunia selama proses menunggu antrian untuk bisa ditangani atau untuk menjalani rawat inap. Jika evaluasi itu dilakukan, maka pimpinan daerah dan pusat harus membenahi kebijakannya yang katanya pro rakyat. Apakah masih bisa disebut demikian atau justru menyiksa rakyat kita??

Temukan jawabannya sendiriii..

 

~zoel auliya~

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s