Pelajaran Sabar di Ruang Tunggu Rumah Sakit

Kamis, 13-10-2011 seperti biasa merupakan jadwalku ke rumah sakit untuk cek perkembangan tulangku yang bermasalah karena kecelakaan itu. Menunggu antrian nomor urut, seorang ibu menyapaku karena melihat tangan kiriku harus “tak gendong”.
Sedikit aku bercerita apa yang terjadi dengan tanganku, si ibu meringis sembari mengernyitkan dahinya mendengar ceritaku. Dalam hati aku berkata sambil memelas pada diriku sendiri,,sepertinya aku sangat layak untuk dikasihani.

Sambil menahan senyum, akupun balik bertanya kepadanya, kenapa dia mengantri bersamaku disini. Aku tidak hanya mengernyitkan dahi sesaat setelah dia bilang bahwa dia sakit tumor.
Astaghfirullah…(aku merinding mendengar jawaban sang ibu).

Apa yang salah dengan percakapan singkat kami tersebut??
Dia meringis mendengar tanganku patah & kepalaku yang bocor karena kecelakaan padahal menurutku penyakitnya lebih mengerikan dari yang sedang aku alami.

Akupun berpindah ke ruang antrian berikutnya. Sembari menunggu, seorang ibu diatas kursi roda diangkat suaminya dan duduk di depan kursiku. Senyumnya indah, walau dia harus dipapah seraya menyapaku dengan suara yang ramah.

Lagi-lagi pertanyaan tertuju kepada tangan yang aku gendong. Iba sekali ibu itu menatapku, tapi lagi-lagi aku harus merinding mendengar cerita orang lain yang justru iba melihatku. Ibu yang satu ini mengalami gagal ginjal. Dua kali dalam seminggu dia harus melakukan cuci darah agar seluruh tubuhnya tidak teracuni oleh darah yang tidak dapat disaring oleh ginjalnya.

Allahu Ya Kariim..
Dia memegang tangan kananku dan meletakkan tanganku diatas lengan kanannya. Dia memintaku meraba sebuah alat yang terpasang di tangan kanannya untuk mempermudah proses hemofialisanya.
Cimino, nama alat itu. Dia seperti pipa sebesar pembuluh darah vena dan bergetar seperti aliran air. Dipasang menyambung dengan pembuluh darah yang ada di lengan sang ibu.

Allahu Akbar…ternyata ada yang lebih mengerikan lagi.

Namun hati penuh syukur bisa kurasakan dari senyum yang tersungging indah diwajahnya. “Alhamdulillah Nak”..kata itu terselip ketika dia bercerita bahwa kondisinya sempat mencapai titik yang jauh lebih parah dari sekarang. Selang hemodialisa dipasang di pembuluh darah lehernya, tangannya dipasang infus dan selang transfusi darah. Semua makanan yang masuk kedalam mulutnya terasa pahit. Merinding seluruh tubuhku mendengar kisahnya. Hemodialisa terus dilakukan untuk bertahan hidup.

“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung” (QS: Ali Imron : 200).

Dua jam di ruang tunggu, memberi banyak pelajaran bagiku tentang keindahan dan kemuliaan sebuah kesabaran.

~Zoel Auliya~

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s