06 September 2011 pukul 16.45 WIB..Nyungsep lagii…

Hari itu tidak ada yang berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Aku datang ke kantor dan melakukan aktifitas rutin seperti biasa. Seharian lagu terbaru sulis terus berputar di komputerku. Hanya lagu riang berjudul dzikir anak itu yang terdengar. Tidak ada tanda-tanda bahwa akan terjadi sesuatu yang significant.

Pukul 16.40 aku dan dua orang teman lainnya ingin segera pulang dan beristirahat. Sampai diujung gerbang kantor, hanya aku yang akan menyebrang jalan karena dua orang temanku berjalan searah dengan arah kantor.

16.45 seorang satpam membantuku menyebrang jalan dan dia menghentikan laju sebuah mobil dari arah barat. Akupun menyebrang dan seperti biasanya kata terimakasih tidak boleh lupa terucap untuk semua orang yang membantu kita, siapapun itu.
Namun yang terjadi selangkah berikutnya setelah kata TERIMAKASIH, PAK terucap dari mulutku, sebuah motor dari arah barat menyambarku dan BRAAAKKK!!!

Motor yang melaju kencang itu menyambarku. Badanku sempat terpelanting berputar dan akhirnya aku terjatuh di tengah jalan raya. Kepalaku menghantam lampu marka jalan yang menempel di aspal. Satpam itu langsung mengangkatku dan membawa ke pos.

Aku dibaringkan dibawah, kepalaku sudah berdarah, badanku pucat, mataku terbuka, darahpun keluar dari hidungku dan aku sempat kejang, itu tutur pak satpam yang menolongku. Dia menepuk-nepuk badanku berusaha menyadarkanku. Akhirnya ada ibu-ibu satu ruangan yang mengenali aku, semua teriak, “…Zulfaaa…Ya Allah..Zulfaaa…itu Zulfaa yang pingsan”.

Keributanpun sempat terjadi di pintu gerbang kantor. Semua orang berusaha menolongku. Aku sempat dibawa ke klinik, tapi klinik sudah tutup. Akhirnya beberapa orang langsung mengangkatku ke mobil dan membawaku ke Rumah sakit MH Thamrin.

Hampir satu jam aku tidak sadar dengan kondisi yang cukup menakutkan, seorang dokter berusaha mencari sumber darah yang mengalir dari kepalaku, membersihkan darah dari hidungku dan memasang sebuah selang oksigen. Beberapa saat setelah dokter menemukan luka robek di kepalaku, dia membersihkan gumpalan-gumpalan darah yang sempat mongering dikepalaku, hingga darah segar mengucur kembali dari kepalaku barulah aku tersadar. Kedua mataku mulai terbuka dan berusaha mengenali teman-teman yang menyapaku..” Sabar ya Zul…Zulfa harus kuat”..
Tiga buah jahitan menutup luka robek dan perban penuh membalut kepalaku yang sepertinya hampir pecah.

Aku harus dirujuk ke RS Ciptomangunkusumo karena kepalaku harus di CT Scan untuk memastikan bahwa tidak ada gangguan gegar otak atau pendarahan di otakku. CT Scan, roentgen X Ray dan semua pemeriksaan dilakukan ulang. Hingga hasil menunjukkan bahwa kepalaku aman. Alhamdulillah,,,walaupun tangan kiriku harus dipasang gips karena patah, tapi pukul 01.00 tengah malam aku bisa meninggalkan UGD malam itu juga. Semua kejadian sebelum kepalaku dijahit,,tidak ada yang kuingat satupun. Semua cerita lengkap itu aku peroleh dari Pak Satpam yang menyaksikan kejadian itu dan semua teman-teman yang menolongku.

Dzat yang Maha Lembut lagi-lagi menyapaku dengan ujiannya.
Mungkin DIA menghukumku,
mungkin DIA ingin menghapus dosaku,
mungkin juga DIA ingin menganugerahiku sesuatu,
Wallahua’ lam..hanya DIA yang mengetahui sebenar-benar kehendakNYA.

Banyak pelajaran yang kudapat dalam kejadian ini..

Gambar-gambar ini sebagai saksi sejarah, aku nyungsep di aspal untuk yang kedua kalinya.

Bahwa kesabaran itu tanpa batas, ketika semua menjadi sempit maka kitalah yang menjadikannya sempit hingga terkadang serasa tanpa ruang gerak..

~Zoel Auliya~
(Masih lebih beruntung aku daripada Simoncelli..)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s