Penjual Daun Pisang dan Cicak

Pernahkah sejenak kita memperhatikan cicak yang sedang menempel di dinding?
Diam, bergerak pelan kesana kemari sesekali dia berusaha menangkap serangga atau nyamuk yang terbang mendekat, mungkin si cicak sedang lapar.

Pernahkah sejenak kita berfikir, bahwa cicak yang menempel erat didinding memakan hewan atau serangga yang terbang dan bahkan terkadang sangat jauh dari jangkauannya. Lidahnya terkadang tidak mudah menangkap nyamuk yang sedang terbang walau dia telah bergerak sangat cepat mendekati nyamuk itu.

Dia bersabar menunggu mangsa yang tak pasti datangnya, walau mungkin laparnya sudah tak tertahan. Sifat istiqomah untuk tetap tenang ada dalam penantiannya untuk mendapatkan apa yang dia cari. Keyakinan bahwa Sang Pencipta maha Rahman dan Rahim serta tidak akan membiarkan ciptaanNYA kelaparan cukup kuat terasa, bahkan hingga saat ini belum ada kejadian cicak mati karena kelaparan hingga kurus kering.

Pun demikian ketika aku masih duduk di bangku SD, sering sekali dapat tugas dari almarhum nenek (aku memanggilnya Emak) untuk menunggu datangnya seorang penjual daun pisang lewat. Emak suka memberi sesuatu kepada penjual daun pisang itu atau menyuruhnya untuk membelikan sesuatu ke pasar.

Emak selalu memintaku untuk duduk di teras rumah pada perkiraan jam si penjual daun pisang itu lewat. Bisa 1 jam lho nunggunya…
Tak jarang aku tidak berhasil menunggu.
Kalaupun aku bosan dan mulai habis kesabaranku untuk tetap tenang di teras dan kemudian aku masuk ke rumah, pasti akan kena marah.
HAYOO KEMBALI KE TERAS !!!! BENTAR LAGI DIA LEWAT !!!

Huft… Dengan kepala tertunduk lesu, aku harus ke teras lagi untuk sesekali melihat apakah ada tanda-tanda penjual daun pisang itu lewat.

Satu pelajaran hidup yang sebenarnya ingin diajarkan almarhum Emak padaku adalah tentang sifat sabar dan istiqomah menunggu sesuatu yang terkadang tidak pasti datangnya. Namun dengan satu keyakinan yang teguh, insyaalloh pohon kesabaran selalu berbuah manis, apapun bentuknya dan kisah tentang kesabaran akan berakhir dengan keharuan yang sangat indah. Selain itu Emak seperti ingin mengajarkan kepadaku akan arti memberi kepada yang lebih membutuhkan dari kita, seorang penjual daun pisang yang mungkin hanya bisa beli beras jika daun-daun pisang yang dia bawa dari rumah ke pasar laku terjual.


~Zoel Auliya~

    Dalam rindu yang berbalut doa,, semoga diampuni dosa-dosamu dan dilapangkan kuburmu.

    Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s