Carilah Bumi Lain, Nak . . .

Nak, ayo bangun…
Sudah sholat subuh apa belum?

Suara sang ayah membangunkan anak semata wayangnya untuk segera melaksanakan sholat subuh.
Dengan nada kaget dan masih setengah terbangun, sang anak menjawab

Sholat??
Untuk apa saya sholat, Pak??
Memangnya Tuhan itu ada Pak?
Sembari menutup mata dan melanjutkan tidurnya lagi.

Serasa tersambar petir ketika sang ayah mendengar jawaban dari anak kesayangannya itu. Ayahpun tidak dapat menahan rasa kaget dan rasa sedihnya, hingga saat itu juga dia harus dilarikan ke Rumah Sakit untuk mendapat pertolongan dokter karena serangan stroke.

” Apakah ada yang salah dengan cara kami mendidiknya? Dia putra kami satu-satunya, harapan kami satu-satunya.
Sejak TK hingga sarjana kami sekolahkan dia di Yayasan yang kami anggap tidak hanya mengajarkan pengetahuan umum saja, tapi pengetahuan agama pun sangat ditekankan”, sang ibu mengisahkan dengan linangan air mata.
Saat itu juga, walaupun kondisi diluar sedang hujan, sang ibu mengusir anaknya, karena dia sudah tidak percaya lagi bahwa Allah itu ada.

“Carilah Bumi lain, Nak..
Jika kamu sudah tidak lagi percaya bahwa Allah itu ada”, ucapnya.

Sang anak pun menjawab, ” mana ada bumi yang lain Bu, selain yang kita tempati?”

“Bumi ini milik Allah, jika engkau tidak percaya lagi kepadaNYA untuk apa kamu masih tinggal dibumi milikNYA?”, tukas sang ibu dengan tegas.

Sembari mengusahakan kesehatan untuk suaminya, dia pun mencari tahu, apa yang terjadi dengan putranya tersebut. Setelah menyelesaikan kuliah S1 nya, sang anak mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studi S2 ke luar negeri. Namun tanpa sepengetahuan kedua orang tuanya, sang anak berteman dan tinggal satu kamar dengan teman kuliahnya dari negara Rusia, dia seorang atheis. Hampir setiap hari sang atheis itu selalu tertawa ketika melihat ” pemuda muslim dari Indonesia”, kawan sekamarnya itu, melaksanakan sholat. Selalu mengatakan bahwa tidak ada gunanya kita sholat, bahwa tuhan itu tidak ada dan bahwa atheis pun bisa hidup sejahtera tanpa tuhan.

Betapa kaget sang ibu setelah mengetahui kenyataan bahwa selama kuliah diluar negeri, putranya telah lupa dengan Allah swt.
Betapa besar harapannya untuk melihat putranya kembali ke jalan Allah, sang ibupun tak henti berdoa untuk memohonkan yang terbaik untuk suami dan putranya.

Allahu Akbar !!!

Betapa Allah luas ampunannya.
Betapa Allah maha pemberi petunjuk.
Allah menuntun kepada cahayaNYA bagi yang DIA kehendaki (QS. An Nur : 35).

Berkat nasehat salah seorang sahabat baiknya, sang “pemuda” itu pun terbuka hatinya.
Akhirnya diapun kembali pulang dan memohon maaf atas kesalahannya kepada kedua orang tuanya.

Satu nasehat singkat, bahwa lembaga pendidikan bukanlah laksana tukang jahit, ketika kita datang membawa baju dan menyertaan model yang kita minta, maka kita pun akan memperoleh baju siap pakai yang kita inginkan.

Tidak demikian ketika dalam mendidik anak, kita tidak bisa serta merta menyerahkan pendidikan anak kita kepada lembaga pendidikan A, B atau C dan berharap ketika anak kita pulang dia sudah menjadi sesuai yang kita harap. Orang tua punya peran yang sangat besar dalam membentuk putra putrinya.

~Zoel Auliya~

Disarikan dari kajian Dhuha Masjid Agung Sunda Kelapa
Minggu 20 Maret 2011.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s