Bapakku seorang PNS

Sedikit kisah tentang anak seorang PNS….

 

 

Aku selalu protes ketika nama bapakku ditulis berbeda di buku pembayaran uang sekolahku (SPP), Raport ku, Buku Data Induk, Papan Pengumuman sampai Daftar Dewan Asatidz. Padahal tak sekalipun kutulis nama seperti yang tertera di semua daftar itu. Pengurus pondok ini semua memang aneh.

Nama bapakku diubah-ubah.

Kadang terlintas dikepalaku, kenapa harus nama itu yang tertulis dibelakang nama bapakku.

Siapakah yang pertama kali membuat nama itu.

Huff… Ternyata nalarku terlalu muda untuk bisa memahami semua itu. Yah..sudahlah…

Bapakku seorang pegawai negeri sipil, yang cukup dikenal tingkat korupsinya. Bahkan tidak sedikit karyawan disana, yang katanya santri, tapi ikut rame-rame korupsi.

Apa semua PNS tukang korupsi?

Apa dalam darahku juga mengalir uang hasil korupsi?

Kalau malam, bapak mengajar di pondok pesantren, dimana dalam setiap doanya, tak pernah lupa bapak mendoakan santri-santrinya sama seperti mendoakan kami anak-anaknya.

Suatu saat, kami berkunjung kerumah salah seorang teman bapak. Bagus sekali rumahnya, tertata rapi, ada mobil keren di garasinya, perabotan-perabotannya pun indah dan yang punya rumah sudah naik haji. Jauh berbeda dengan apa yang ada di rumah kami. Dalam perjalanan pulang, bapak bercerita, teman-teman bapak rumahnya bagus, mobilnya bagus, banyak yang sudah bisa berangkat haji.

Kapan ya bapak bisa berangkat haji? Ucapnya seraya menghela nafas.

Dikesempatan yang tak kalah serunya, beberapa kali bapak menjadi panitia pemberangkatan  jamaah haji. Setiap kali melepas calon jamaah berangkat meninggalkan pendopo kabupaten, doanya selalu diringi dengan tetesan air mata.

Seraya menitipkan untaian doa mulia, semoga bisa segera berangkat haji. Menjadi tamu agung di Baitulloh, Makkah Al Mukarromah wa Madinatul Munawaroh.

Dalam setiap dhuhaku, kumohonkan keridhoan Alloh, untuk mengundang bapak dan ibuku ke rumahNYA, memudahkan rizkinya supaya bisa melunasi biaya naik haji.

Tapi ujian dan cobaan tidak berhenti menghampiri juga. Satu ketika menjelang hari ulang tahunku aku mengalami kecelakaan motor, sampai mengalami patah tulang. Berkurang lagi tabungan bapak karena aku. Ya Rabb, betapa sedihnya aku. Aku menguji kesabaran bapak lagi. Hingga pada suatu pagi, dalam dhuha ku aku bersujud dan berdoa ″Ya Alloh, Ridhoilah Bapak dan Ibuku menjadi tamu di Baitulloh. Andai semua pahala dhuha ku bisa ditransfer kepada bapak dan ibu, akan kuserahkan semuanya″.

Dalam sujudku aku melihat bapak dan ibu memakai baju berwarna putih, tersenyum bahagia dan berdiri di samping pintu sebuah bus rombongan jamaah haji. Subhanalloh, aku yakin doaku akan segera dijawab oleh Alloh.. Allohu Akbar.

Sekarang aku tahu kenapa Almarhum Kyai sepuh memberikan nama tambahan di belakang nama bapakku. AL-KARIM itu nama beliau, kemuliaan dunia dan akhirat semoga senantiasa atas bapak untuk keteguhan hatinya dan segala apa yang diperjuangkan..

Semoga Allah panjangkan usiamu dan kelak diakhirkan dalam khusnul khatimah…

~ Zoel Auliya~

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s